Menikmati Keindahan Tiga Telaga di Kabupaten Kuningan dalam Waktu 6 Jam

Kabupaten Kuningan mungkin belum sepopuler Kota Bandung atau Bogor, tetapi kabupaten yang berada di ujung timur Jawa Barat ini memiliki tempat wisata yang tak kalah indah dibandingkan kedua kota tersebut.  Bisa dibilang Kuningan memiliki jenis wisata lengkap, mulai dari wisata alam / ekowisata, wisata sejarah, wisata reliji, wisata kuliner, wisata budaya bahkan wisata bahari.  Letaknya yang berada di dataran tinggi dan berada persis di kaki Gunung Ciremai membuat kontur alamnya sangat indah dan beriklim sejuk. Kuningan berada di jalur penghubung antara Jawa Barat bagian Utara (Cirebon) dengan Jawa Barat bagian selatan (Ciamis & Tasik) dan berbatasan langsung dengan Cirebon, Majalengka, Ciamis dan Brebes.

Letaknya yang cukup strategis karena dekat dengan tol trans Jawa (Cipali), jalur kereta utara Jawa dan Bandara Kertajati membuat aksesnya relatif mudah. Dengan jarak hanya sekitar 200 km dari Jakarta bisa menjadikan Kuningan sebagai alternatif liburan akhir pekan warga Jakarta selain Bandung atau Bogor. Dari Jakarta kita bisa menggunakan kereta sampai Cirebon kemudian dilanjutkan dengan mobil atau langsung menggunakan mobil melalui tol Cikampek dan Cipali. Waktu yang dibutuhkan sekitar 3-5 jam.

Karena banyaknya tempat wisata yang bisa dikunjungi maka waktu yang diperlukan tidak cukup 1 – 2 hari. Jika kita hanya memiliki waktu yang terbatas maka salah satu alternatifnya adalah mengunjungi tiga telaga yang berada di Desa Kaduela, Kec Mandirancan, yaitu Telaga Biru, Telaga Remis dan Telaga Nilam. Ketiganya terletak berdekatan sehingga waktu yang diperlukan hanya sekitar 6 jam untuk menikmati keindahan kolam atau danau dengan mata air alami tersebut, dengan asumsi kita sudah berada di Cirebon atau Kuningan. Jarak ketiga telaga tersebut dari Cirebon sekitar 15-20 km dengan waktu tempuh sekitar 45-60 menit. Waktu yang paling tepat untuk menikmati ketiga telaga tersebut adalah pagi sampai siang hari. Jika kita ingin mendapatkan foto yang tidak “bocor” disarankan untuk datang pada pagi hari dan weekday karena relatif sepi.

Telaga Biru / Situ Cicerem

Sesuai dengan namanya telaga ini berwarna biru kehijauan terutama di pagi hari. Karena memiliki sumber mata air yang berasal dari kaki gunung Ciremai, air di telaga ini sangat jernih dan dingin. Saking jernihnya dasar telaga dan ikan-ikan dapat terlihat jelas dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Ratusan ikan berwarna-warni tanpa malu-malu akan langsung menghampiri pengunjung yang berada di tepian telaga dan berharap diberikan makanan. Mungkin karena sudah sering diberi makan oleh pengunjung sehingga mereka sudah terbiasa dengan kehadiran manusia. Dengan membeli pakan ikan seharga Rp 3.000,- per bungkus kita bisa menarik perhatian ikan-ikan tersebut agar lebih lama berada dekat kita. Terdapat beberapa jenis ikan diantaranya Mas, Nila, Gurami dan Lele, tetapi yang paling dominan adalah ikan Mas dan Nila.

7C711DB7-0F57-4B07-9CD4-FC345CCA0E19
Selamat datang di Situ Cicerem
0915E136-1600-4EF7-9125-BBF1CF295F8D
Mumpung sepi foto dulu lah yaa..hehe

Selain bermain dengan ikan, pengunjung juga bisa berselfi ria di sekitar telaga yang pasti akan instagramable. Untuk menambah keindahan foto, pengelola mendirikan fasilitas berupa ayunan pada batang pohon yang menjorok ke telaga dan dermaga yang menjorok ke tengah khusus untuk foto. Selain itu di akhir pekan pengunjung bisa bersantai di tepi atau tengah telaga dengan menggunakan balon apung.

4EEBBF80-B29C-40B9-A1C5-9B200C4FD3A9
Jomblo dilarang naik yaaa..Hehe
0514E9B1-B9B5-4720-B0F5-7B8B6712549F
I LOVE U

Jam buka : 08.00 – 17.30 ; harga tiket : Rp 5.000,- ; Parkir : Rp 5.000,-

Telaga Remis

Jarak antara Telaga Biru dengan Telaga Remis hanya sekitar 2 km melewati jalan kecil (kondisi cukup baik) dan berkelok-kelok. Telaga Remis lebih luas dibandingkan dengan Telaga Biru tetapi disini kita tidak bisa melihat ikan-ikan besar berwarna-warni, ikan disini relatif lebih kecil. Dasar kolam dipenuhi oleh tanaman air, berbeda dengan Telaga Biru yang hanya ada batu dan pasir.

95EB9436-FBED-408D-862C-68EF68D51816
Salah satu spot foto di Telaga Remis
Processed with VSCO with oak3 preset
1,,,2,,,3,,, cekrek!!!

Pengunjung bisa menikmati telaga ini dengan menggunakan “bebek-bebekan” atau perahu. Selain itu kita bisa bercengkrama dengan penduduk setempat yang sedang memancing. Menurut salah satu pemancing, ikan yang ada disana mayoritas ikan Nila atau Mujaer dan ada yang beratnya mencapai 6 kg. Bagi pecinta fotografi tempat ini pasti akan membuat betah berlama-lama karena banyak sekali objek foto yang bisa dijadikan bidikan kamera.

Processed with VSCO with al2 preset
Penduduk lokal yang sedang memancing

Jam buka : 08.00 – 17.30 ; harga tiket : Rp 15.000,- ; Parkir : Rp 5.000,-

Telaga Nilam

Jarak dari telaga Remis ke telaga Nilam hanya beberapa ratus meter saja. Berbeda dengan dua telaga sebelumnya, telaga ini ibarat kolam renang alami. Pengunjung bisa berenang sepuasnya sambil menikmati kejernihan dan dinginnya air telaga. Diantara tiga telaga, saya rasa air di telaga ini yang paling jernih mungkin karena dasar telaga didominasi batuan dan tanaman air. Bagi yang membawa anak kecil tidak perlu khawatir karena disini ada kolam yang cukup dangkal yang bisa digunakan berenang oleh anak-anak.

E50A769B-1455-4AD0-9FEB-721549AF0700
Sekilas tentang biota di Telaga Nilam

_DSF2784

CFDB76AC-F70D-4E14-8E8F-01FBDCA2DFCE
Jernih banget ya
Processed with VSCO with au5 preset
Jangan lupa bawa perlengkapan renang ya..

Jam buka : 08.00 – 17.30 ; harga tiket : Rp 10.000,- ; Parkir : Rp 5.000,-

 

 

Japan Trip (Part 1) : Menikmati (Awal) Musim Gugur di Aomori

Awal Oktober kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi Jepang selama sekitar 2 minggu. Disana saya mengunjungi beberapa kota yaitu Tokyo, Osaka, Kyoto dan Aomori. Salah satu tujuan trip kali ini adalah untuk menikmati keindahan musim gugur dan saya memilih Aomori untuk saya kunjungi. Kenapa Aomori? ada beberapa alasan kenapa saya memilih Aomori sebagai tujuan saya:

  1. Wilayah tersebut merupakan salah satu wilayah yang mengalami musim gugur lebih awal dibandingkan wilayah lain di Jepang karena pada umumnya puncak musim gugur di Jepang sekitar bulan November. Beberapa wilayah di Jepang, terutama bagian utara dan dataran tinggi, mengalami musim gugur lebih awal yaitu sekitar bulan Oktober. Aomori sendiri merupakan prefektur paling utara yang berada di pulau Honshu. 
  2. Saya ingin melihat keindahan musim gugur di Danau Towada dan Oirase Stream. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari japan-guide.com , Danau Towada dan Oirase Stream merupakan salah satu spot terbaik untuk menikmati keindahan musim gugur di Jepang.
  3. Saya ingin fokus menikmati keindahan alam dan menjauh dari hiruk pikuk kota besar seperti Tokyo atau Osaka. 

Perjalanan saya di Aomori sendiri tidak terlalu lama, hanya sekitar 3 hari. Selama disana saya menginap di apartemen salah satu mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S3 di Hirosaki University yang berada di kota Hirosaki (lumayan menghemat biaya akomodasi. hehe). Hirosaki sendiri merupakan salah satu kota di prefektur Aomori yang berjarak sekitar 40 km dari stasiun Shin-Aomori dan dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kereta dari stasiun Shin-Aomori.

Kebun Apel Hirosaki

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah kebun apel yang berada di kota Hirosaki. Hirosaki dan Aomori memang terkenal sebagai penghasil apel. Di kebun tersebut kita bisa menikmati keindahan hamparan pohon apel dan landscape Hirosaki dari ketinggian. Selain itu, kita bisa membeli apel yang kita petik langsung dari pohonnya. Apel yang kita petik akan ditimbang dan dihargai sekitar 300 – 500 yen per kilonya. Untuk mengujungi tempat ini kita bisa menggunakan taxi atau bus dari pusat kota Hirosaki dengan tarif sekitar 1000 yen sekali jalan.

Hirosaki Castle

Tempat kedua yang saya datangi adalah Hirosaki Castle yang berada di pusat kota Hirosaki. Tempat ini hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat saya menginap sehingga bisa diakses dengan berjalan kaki. Seperti castle di Jepang pada umumnya, castle ini pun dikelilingi oleh taman yang sangat luas dan rindang. Pohon-pohon besar berbagai jenis berderet sepanjang jalan menuju castle yang berada di tengah taman. Sebenarnya castle ini tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan Osaka Castle yang sangat megah. Karena saya datang sudah sore menjelang malam, suasana di sekitar castle lumayan sepi sehingga saya bisa leluasa untuk mengambil foto tanpa harus berebut dengan turis lain untuk mendapatkan posisi terbaik. Setiap tahun selalu diadakan festival musim gugur di Hirosaki Castle tetapi sayang saya kurang beruntung karena festival tersebut baru diadakan minggu berikutnya.

Oirase Stream

Sesuai rencana, keesokan harinya saya pergi ke Oirase Stream dan Danau Towada yang masih berada di prefektur Aomori. Untuk menuju kesana saya harus menggunakan kereta ke stasiun Shin-Aomori atau stasiun Aomori terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan bus. Perjalanan dari Shin-Aomori ke Oirase Stream sekitar 2,5 jam dengan beberapa kali pemberhentian. Pemberhentian tersebut umumnya merupakan onsen atau pemandian air panas khas Jepang. Selain dikenal akan buah apelnya, Aomori juga dikenal karena banyaknya onsen. Selama perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan pegunungan yang sangat menakjubkan. Karena pada saat itu belum memasuki puncak musim gugur maka sebagian besar pohon masih hijau tetapi sudah ada beberapa pepohonan yang mulai berubah warna menjadi kuning atau merah. Di setengah perjalanan, bus akan melewati daerah yang lebih tinggi dimana di tempat ini mayoritas dedauan sudah berubah menjadi kuning atau merah.

Setelah perjalanan sekitar 2.5 jam akhirnya saya sampai di Oirase Stream. Oirase Stream sendiri merupakan jalur hiking yang berada di pinggir aliran sungai yang airnya bersumber dari Danau Towada. Oirase Stream ini dimulai dari Nenokuchi (pinggir Danau Towada) sampai dengan Yakeyama dengan jarak sekitar 14 km. Waktu yang diperlukan untuk berjalan sepanjang jalur tersebut sekitar 5 jam. Tetapi jangan khawatir karena sepanjang jalur tersebut terdapat beberapa pemberhentian bus sehingga kita bisa turun ataupun naik pada spot yang kita inginkan saja tanpa harus berjalan sepanjang 14 km. Untuk jalurnya terserah kita, mau Nenokuchi – Yakeyama (dari atas ke bawah) atau Yakeyama – Nenokuchi (dari bawah ke atas). Saya sendiri memilih memulai dari bawah ke atas. Karena waktu yang terbatas, saya hanya berjalan di beberapa spot terbaik saja, sisanya saya kembali menggunakan bus menuju Danau Towada. Karena ini merupakan aliran sungai maka kita akan disuguhkan dengan keindahan sungai dengan airnya yang sangat jernih, pepohonan dengan daunnya yang mulai menguning serta jeram dan air terjun yang akan membuat kita berdecak kagum. 

Danau Towada

Tujuan terakhir saya adalah Danau Towada yang merupakan salah satu danau terbesar di Jepang. Sesampainya disana saya sedikit kecewa karena sebagian besar pohon masih berwarna hijau dan sepertinya puncak musim gugur disana baru akan terjadi sekitar akhir Oktober. Untuk menikmati keindahan danau sebenarnya kita bisa menaiki ferry, tetapi karena pada saat itu sudah sore dan gerimis saya hanya melihat keindahannya dari pinggir danau saja.

 Resume 

  1. Transportasi :
    • Stasiun Shin-Aomori – Stasiun Hirosaki : kereta Ou Line, sekitar 1 jam, 500 – 1600 yen (free jika menggunakan JR Pass)
    • Stasiun Shin-Aomori – Oirase Stream / Danau Towada : JR Bus, sekitar 2,5 – 3 jam, sekitar 3000 yen (free jika menggunakan JR Pass)
    • Stasiun Tokyo – stasiun Shin-Aomori : Shinkansen Tohoku (seluruh tempat duduk harus dipesan terlebih dahulu), sekitar 3 jam, sekitar 17.000 yen (free jika menggunakan JR Pass
  2. Akomodasi : tarif hotel bervariasi, rata-rata tarif hotel bintang 3 di Jepang diatas 1 – 1,5 juta per malam
  3. Waktu terbaik : akhir Oktober – awal November
  4. Suhu : umumnya belasan sampai dibawah 10 derajat
  5. Score : 4 dari 5 (4,5 pada puncak musim gugur)

Pengalaman Pengajuan Visa Inggris

Beli gak,,,beli gak,,, kira-kira itulah yang ada dalam pikiran saya pada saat berhasil menemukan tiket pesawat PP Jakarta-London yang lumayan murah. Yang menjadi pertimbangan utama pada saat itu, selain harga dan ijin cuti tentu saja, adalah kira-kira visanya di-approve gak ya? karena saya pernah mendengar bahwa pengajuan visa ke Inggris lumayan susah. Pada saat itu saya memutuskan untuk tidak langsung membeli karena masih khawatir tidak bisa mendapatkan visa. Tetapi apalah daya bayangan kota London terus menghantui pikiran saya (lebay dikit boleh lah ya..) dan pada akhirnya setelah beberapa hari galau dan setelah mengucapkan Bismillah tiket Jakarta-London saya beli. Hehe

Kekhawatiran tidak bisa mendapatkan visa ternyata masih menghantui saya (meskipun tidak sebesar kekhawatiran ditolak si dia atau calon mertua.meh) selama beberapa bulan setelahnya. Just info bahwa tiket tersebut dibeli 7 bulan sebelum keberangkatan, sedangkan pengajuan visa baru sekitar 2 bulan sebelum keberangkatan.  Bisa dibayangkan selama 5 bulan saya harus rela menunggu ketidakpastian. Ternyata benar “digantung” itu gak enak. Haha. Sebelum mengajukan permohonan saya sempat browsing mengenai dokumen apa saja yang harus disiapkan dan pengalaman orang lain yang telah mengajukan visa sebelumnya. Setelah menyiapkan seluruh dokumen akhirnya hari yang ditunggu itu datang juga. So, prosesnya bagaimana? dokumen apa saja yang harus disiapkan? susah gak sih? semua pertanyaan itu akan saya jawab setelah jeda pariwara berikut ini (plis jangan ganti website).

Prosesnya Gimana Sih?

Well, yang pertama harus kita lakukan adalah mengajukan permohonan visa secara online melalui situs Visa4UK. Sebelum mengajukan permohonan kita diwajibkan untuk memiliki account dengan cara mendaftar pada situs tersebut. Setelah mendaftar kita harus mengisi form yang berisi pertanyaan terkait data pribadi seperti nama lengkap, tanggal lahir, alamat, pekerjaan dll. Buat yang jomblo tenang aja karena gak ditanyain status hubungan. Selain itu, kita akan ditanya tujuan pergi ke Inggris (liburan, bekerja, belajar, tugas diplomatik atau mencari pasangan hidup?), pertanyaan ini terkait dengan jenis visa yang akan kita ajukan. Kalau hanya untuk sekedar liburan atau mengunjungi keluarga jenis visa yang diajukan adalah Visit or Transit Visa.

Selain pertanyaan tadi, kita juga akan ditanya mengenai rencana perjalanan mulai dari menuju dan selama disana sampai kepulangan kembali ke Indonesia atau keluar dari Inggris. Dikarenakan pertanyaannya cukup detail maka saya sarankan untuk membuat itinerary perjalanan terlebih dahulu untuk memudahkan pada saat pengisian form. Kalaupun belum menentukan akan kemana saja selama disana, buatlah itinerary sementara untuk pengajuan visa. Itinerary sementara ini tidak perlu dibuat terlalu detail tetapi minimal memberikan informasi mengenai: jadwal penerbangan termasuk kode booking, kota mana saja yang akan dikunjungi, akomodasi (termasuk kode booking hotel) dan transportasi selama disana. Jika belum menentukan tempat menginap biasanya saya melakukan fake-booking melalui situs Booking.com. Kenapa fake-booking? karena ini hanya untuk keperluan pengajuan visa saja dan belum tentu kita akan menginap disana alias di-cancel. Agar tidak dikenakan biaya pembatalan pilihlah hotel yang memberikan fasilitas free-cancelation, biasanya sampai H-7. Jadi, untuk itinerary sementara ini bisa saja kita pilih menginap di hotel bintang 5 padahal kenyataanya di hostel. Hehe. Setelah visa di-approve barulah kita membuat itinerary yang sebenarnya.

IMG_0961 2
Contoh Itinerary

Selain itu, form tersebut berisi pertanyaan dengan siapa kita pergi, riwayat perjalanan (banyak-banyakin aja daftar negara yang pernah dikunjungi), berapa budget yang dianggarkan, kondisi keuangan (jumlah tabungan) sampai aset yang dimiliki. Memang jika dibandingkan dengan visa Schengen, pertanyaan yang diajukan sedikit lebih detail. Setelah seluruh form diisi selanjutnya adalah menentukan jadwal penyerahan berkas dan pembayaran yang dilakukan melalui transfer dengan biaya sekitar $128 untuk visa standar. Untuk detail biaya bisa lihat disini. Setelah dilakukan pembayaran maka form pengajuan dan form ceklis bisa di-download dan di-print, yang kemudian dibawa bersama dengan dokumen pendukung pada saat penyerahan dokumen atau interview. Untuk wilayah Indonesia sendiri penyerahan dokumen bisa dilakukan di 3 kota: Jakarta, Surabaya dan Denpasar. Khusus untuk Jakarta dilakukan di VFS yang ada di Kuningan City, Jakarta Selatan.

Screen Shot 2018-03-17 at 7.24.52 PM

Dokumen Apa Saja yang Harus Dibawa?

Setelah seluruh dokumen disiapkan maka hal selanjutnya adalah menyerahkan dokumen tersebut ke VFS sesuai dengan jadwal yang telah kita tentukan sebelumnya. Ingat, penyerahan dokumen harus sesuai dengan tanggal dan jam yang telah kita tentukan karena jika tidak maka akan ditolak atau tidak ada diproses. Adapun dokumen yang harus dibawa adalah :

  1. Form pendaftaran dan ceklis yang sebelumnya sudah diprint
  2. Paspor yang masih aktif dan paspor lama
  3. Surat keterangan dari tempat kerja (bahasa Inggris)
  4. Surat referensi dari bank (bahasa Inggris) beserta dengan copy buku tabungan atau rekening koran 3 bulan terakhir. Mengenai jumlah tabungan, entah saya skip atau memang tidak ada, saya tidak menemukan persyaratan tersebut dalam website. Tetapi saran saya jumlah tabungan yang kita miliki kira-kira bisa mencukupi untuk biaya perjalanan kita selama disana termasuk dengan tiket pesawat, syukur-syukur bisa lebih.
  5. KTP, KK dan Akta Kelahiran (copy dan asli) yang telah ditranslate kedalam bahasa Inggris oleh translator tersumpah yang menjadi rekanan kedutaan Inggris. Listnya bisa dilihat disini. Adapun biayanya sekitar 150 ribu per lembar.
  6. Copy dokumen aset seperti akta tanah (jika ada)
  7. Copy asuransi perjalanan. Pengalaman saya biayanya sekitar 500 ribu per orang untuk jangka waktu 10 – 15 hari perjalanan.
  8. Itinerary disertai copy tiket pesawat dan booking-an hotel

Untuk pengajuan melalui VFS, seluruh dokumen tadi akan diperiksa terlebih dahulu oleh security, terutama jadwal penyerahan dokumen, sebelum kita diijinkan masuk. Setelah itu kita akan diberikan nomor antrian. Agar tidak terlalu lama antri saya sarankan agar jadwal penyerahannya pagi. Setelah nomor antrian kita dipanggil maka seluruh dokumen tadi diberikan kepada petugas untuk dicek kebenaran dan kelengkapannya. Biasanya sambil dicek mereka juga menanyakan beberapa hal terkait perjalanan kita seperti tujuannya apa, mau kemana saja selama disana dll. Proses ini tidak terlalu lama hanya sekitar 5-15 menit tergantung kelengkapan dokumen. Saya sarankan seluruh dokumen disusun rapi agar memudahkan pemeriksaan. Setelah selesai kita akan diberikan tanda terima dan tanda terima tersebut harus dibawa pada saat pengambilan paspor. Bagi yang tidak bisa mengambil secara langsung, kita bisa memilih opsi untuk dikirimkan ke alamat kita pada saat pengisian form online. Setelah penyerahan dokumen, selanjutnya adalah perekaman informasi biometrik yang terdiri dari sidik jari dan foto. So, kita tidak perlu membawa pas foto. Setelah itu dilakukan maka selesailah proses pengajuan visa, kita tinggal berdoa kepada Tuhan YME agar visa kita disetujui. Proses verifikasinya sampai dengan pemberian keputusan sekitar 15 hari kerja, tetapi pada umumnya bisa selesai sekitar 10 hari. Pengajuan saya sendiri bisa selesai sekitar 10 hari dan Alhamdulillah visa saya disetujui. Kita akan diinfokan melalui e-mail atau SMS apabila proses verifikasi telah selesai dan paspor bisa diambil kembali. Untuk detail lamanya proses pengajuan bisa dilihat disini.

Screen Shot 2018-03-17 at 7.24.29 PM

So, secara garis besar proses sebagai berikut:

  1. Membuat account di Visa4UK
  2. Mengisi form permohonan dan menyiapkan dokumen penunjang
  3. Menentukan jadwal penyerahan dokumen
  4. Melakukan pembayaran
  5. Form di-download dan di-print
  6. Menyerahkan dokumen dan interview sesuai jadwal
  7. Menunggu hasil verifikasi
  8. Mengambil kembali paspor/hasil

Susah Gak Sih?

Jujur, menurut saya prosesnya tidak sesulit yang saya bayangkan. Selama seluruh dokumen telah dipersiapkan maka prosesnya akan relatif mudah dan cepat. Tetapi memang jika dibandingkan dengan visa Schengen biaya yang dikeluarkan lebih mahal. Hehe. Mengenai disetujui atau tidak hanya Allah yang tahu. Haha. Selama dokumen lengkap, kondisi keuangan mencukupi dan tidak ada masalah dengan pengajuan visa sebelumnya (baik Inggris maupun negara lain) Insyaallah disetujui.

Itulah pengalaman saya. Pengalaman saya mungkin berbeda dengan orang lain karena Tuhan ciptakan kita berbeda-beda. Apeuu…

So, buat yang punya rencana ke Inggris jangan khawatir lagi soal visa tapi khawatirlah dengan jodoh yang tak kunjung tiba.

Ciaooo……

Musim Semi di Benua Biru (Part 2)

Setelah pada Part 1 saya menceritakan pengalaman perjalanan saya di Amsterdam, Bruges dan Paris kali ini saya akan menceritakan pengalaman perjalanan di Swiss dan Italia.

Interlaken

Setelah Paris tujuan kami selanjutnya adalah Interlaken, Swiss. Dari Paris kami menggunakan bus malam yang sudah dibeli secara online via goeuro.com. Bus yang kami gunakan hanya sampai Bern, dari sana dilanjutkan menggunakan kereta ke Interlaken. Seperti yang sudah saya bayangkan sebelumnya, pemandangan sepanjang perjalanan membuat saya berdecak kagum. Hamparan padang rumput hijau dengan latar pegunungan Alpine yang masih diselimuti salju membuat saya enggan memejamkan mata meskipun sebenarnya saya lelah. Mendekati Interlaken pemandangan yang tadinya hijau perlahan berubah menjadi putih oleh salju. Ya, meskipun saat itu sudah memasuki musim semi tetapi disini sesekali masih turun salju.

img_0666

Interlaken sendiri merupakan kota kecil diantara danau Thun dan Brienz. Kedua danau tersebut dihubungkan oleh sungai Aare yang mengalir di tengah kota. Interlaken merupakan salah satu pintu masuk ke beberapa puncak pegunungan Alpine seperti Eiger, Monch dan Jungfrau. Tidak seperti kota-kota sebelumnya suasanya disini relatif sepi dan tidak terlalu banyak wisatawan. Meskipun kota kecil, transportasi disini sangat modern dan nyaman. Selain kereta, kita juga bisa menggunakan bus untuk berkeliling kota dengan gratis. Selama disana, ada satu hal yang menjadi perhatian saya yaitu penduduk lokal yang saya temui mayoritas orang tua, tidak terlalu banyak anak muda yang bisa dijumpai disana.

DSCF7413
Pusat kota dengan latar pegunungan yang masih diselimuti salju
DSCF7410
Banyak sekali pot bunga yang ditanami tulip
dscf7555-1
Suasana kota Interlaken

Tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan di Interlaken. Para wisatawan umumnya hanya singgah sebelum melanjutkan perjalanan mendaki ke puncak Alpine. Untuk menuju kesana kita bisa menggunakan kereta dari pusat kota. Selama disana kita akan melihat keindahan alam Swiss seperti yang ada di film-film. Hamparan hijau padang rumput, rumah-rumah penduduk khas Swiss dan gerombolan sapi menjadi tontonan utama selama perjalanan. Semakin keatas, pemandangan berubah menjadi putih karena  hampir seluruh wilayahnya ditutupi salju.

dscf7467-1
What a wonderful world
dscf7482-1
Wengen

img_0665

Florence & Pisa

Setelah Interlaken tujuan kami selanjutnya adalah Florence, Italia. Untuk menuju kesana kami menggunakan TRENITALIA yang kami pesan sebelumnya via goeuro. Karena tidak ada kereta yang langsung ke Florence, kami terpaksa harus ke Milan terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan menggunakan bus. Ada pengalaman tidak mengenakan yang saya alami sebelum menuju ke Italia. Pada saat akan berganti kereta di salah satu stasiun di Swiss, tas saya yang berisi kamera dan lensanya tertinggal di kereta yang kami naiki dari Interlaken. Singkat cerita karena saya tidak mungkin menyusul kereta itu akhirnya saya hanya melaporkan kejadian tersebut ke petugas yang ada di stasiun dengan harapan tas saya masih bisa ditemukan dan dikirim ke Indonesia. Alhamdulillah, sekitar 2 jam kemudian saya diinformasikan bahwa tas saya masih ada dan akan dikirim ke Indonesia. Setelah menunggu beberapa minggu akhirnya tas saya kembali meskipun saya harus membayar biaya pengiriman dan bea masuk dengan total hampir 3 juta. Hiks

Florence merupakan Ibu Kota Tuscan yang berada di Italia tengah dan merupakan kota kelahiran kebudayaan Renaisans. Tak ayal kota tersebut dipenuhi oleh bangunan-bangunan dengan gaya Renaisans. UNESCO menetapkan kota ini sebagai situs warisan dunia pada tahun 1982. Tak jauh beda dengan Bruges, daya tarik kota ini adalah bangunan-bangunan tua penuh sejarah dengan gaya arsitektur yang sangat Eropa sekali. Tak hanya sebagai pusat kebudayaan Renaisans, Florence juga merupakan kota kelahiran brand fashion ternama, Gucci. Beberapa tempat yang menjadi daya tarik kota ini adalah Piazza del Duomo, Pallazo Vecchio, Piazza Repubblica, Ponte Vecchio, Katedral Santa Maria del Fiore, Baptistery dan Piazzale Michelangelo. Bagi yang suka berbelanja disini banyak sekali butik-butik dari brand ternama seperti Gucci, Versace, Chanel atau Salvatore Ferragamo. Untuk menikmati tempat wisata tersebut kita cukup berjalan kaki karena letaknya yang berdekatan. Menjelang malam kita bisa bersantai di cafe yang banyak terdapat disana sambil menikmati secangkir cappucino dan tentu saja pizza khas Italia.

IMG_4298
Menikmati sunset dan kota Florence dari Piazzale Michelangelo

IMG_4323

Dari Florence kami sempat pergi ke Pisa dengan menggunakan kereta. Karena keterbatasan waktu kami hanya PP. Tujuan utama pergi kesana tentu saja untuk melihat Leaning Tower of Pisa alias menara miring Pisa.

IMG_4231

IMG_4191

IMG_4232

Roma

Kota terakhir yang kami kunjungi adalah Roma. Karena Roma merupakan kota tua sehingga mayoritas tempat wisata yang kami kunjungi merupakan bangunan atau situs bersejarah. Untuk lebih memudahkan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain kami memilih menggunakan bus hop on hop off. Beberapa tempat yang kami kunjungi adalah Colosseum, Roman Forum, Spanish Step, Trevi Fountain dan Pantheon. Bagi yang ingin berbelanja, banyak sekali butik-butik yang menjual produk fashion di dekat Spanish Step.

IMG_4352
Colesseum

Tak komplit rasanya ke Italia tanpa berkunjung ke Vatikan. Salah satu negara terkecil di dunia yang berada di tengah kota Roma ini memang selalu dipadati oleh pengunjung, baik pejiarah maupun wisatawan biasa seperti kami. Jika data pada hari akhir pekan siap-siap saja untuk antri panjang sebelum memasuki St Peter’s Basilica.

IMG_4426
St Peter’s Basilica
IMG_4485
Garda Swiss

Musim Semi di Benua Biru (Part 1)

Benua Biru atau Eropa merupakan salah satu destinasi incaran para traveler. Benua yang terdiri lebih dari 50 negara ini mungkin ada dalam wishlist hampir semua traveler terutama mereka yang berasal dari luar benua tersebut, termasuk saya. Keindahan alam, budaya, arsitektur, tata kota yang modern dan teratur merupakan salah satu daya tarik untuk mengunjungi benua ini. Menurut data PBB, secara geografis Eropa dibagi menjadi 4 wilayah yaitu Barat (Austria, Perancis, Jerman, Belanda, Swiss, dll), Timur (Polandia, Rumania, Ukraina, Rusia, dll), Utara (Inggris, Denmark, Islandia, Finlandia, dll) dan Selatan (Yunani, Italia, Portugal, Spanyol, dll). Negara-negara di Eropa Barat dan Utara sepertinya merupakan tujuan utama para traveler Indonesia, terutama bagi mereka yang baru pertama kali kesana. Hal ini mungkin terjadi karena di negara-negara tersebut terdapat icon-icon terkenal seperti menara Eiffel di Perancis, Colosseum dan menara Pisa di Italia atau Big Ben dan Buckingham Palace di Inggris.

Sebagian besar negara di Benua Eropa masuk kedalam wilayah subtropis sehingga mempunyai 4 musim, yaitu semi, panas, gugur dan dingin. Musim semi dimulai sekitar bulan Maret – Mei, musim panas sekitar Juni – Agustus, musim gugur sekitar September – November dan musim dingin sekitar Desember – Februari. Setiap musim menawarkan pengalaman yang berbeda bagi para traveler yang datang.

Kali ini saya akan sedikit bercerita dan berbagi pengalaman kunjungan saya ke beberapa negara Eropa pada tahun 2017. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya bahwa Eropa merupakan salah satu wishlist saya sejak lama. Singkat cerita setelah tabungan cukup akhirnya saya pergi ke beberapa negara Eropa pada bulan April 2017. Tujuan utama saya adalah untuk menikmati musim semi dan berkunjung ke beberapa icon terkenal di beberapa negara. Setelah diskusi yang cukup alot dengan partner traveling saya, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke 7 kota di 5 negara yaitu Amsterdam (Belanda), Bruges (Belgia), Paris (Perancis), Interlaken (Swiss), Florence dan Roma (Italia). Untuk perjalanan yang hanya 12 hari (termasuk PP dari/ke Jakarta) itinerary tersebut memang terlihat sangat ambisius, apalagi kami tidak menggunakan jasa biro perjalanan. Pada saat itu kami hanya berpikir belum tentu bisa kesana lagi jadi sekalian saja berkunjung ke banyak tempat. Hehe

Amsterdam

Tujuan pertama kami adalah Amsterdam, Belanda. Tujuan utamanya adalah city tour di Amsterdam dan berkunjung ke Keukenhof yang merupakan salah satu taman bunga terbesar di dunia. Awalnya kami ingin mengunjungi beberapa tempat di luar Amsterdam, seperti Volendam, Giethoorn, dan Kinderdijk, tetapi karena keterbatasan waktu akhirnya hanya Amsterdam dan Keukenhof yang bisa kami kunjungi.

IMG_3138

IMG_3133
Suasana sekitar apartemen tempat kami menginap

Belanda terkenal dengan keindahan kanalnya, sehingga hal wajib ketika berkunjung kesana adalah menyusuri kanal dengan perahu atau berjalan kaki. Di Amsterdam sendiri banyak sekali kanal yang bisa dikunjungi. Selain itu kita bisa berkunjung ke beberapa museum terkenal seperti Rijksmuseum, Van Gogh Museum dll, atau sekedar bersantai di taman Vondelpark. Amsterdam sendiri tidak begitu besar tetapi mempunyai sistem transportasi yang sangat bagus sehingga memudahkan para traveler untuk berkeliling kota. Pilihan transportasinya terdiri dari bus, trem, metro atau kereta. Sama seperti di negara maju lainnya, untuk menggunakan transportasi umum kita harus menggunakan smart card yang disebut OV Chipkaart.

IMG_3153

DSCF7180
Salah satu kanal yang bisa dijumpai di Amsterdam

DSCF7115

IMG_3195
Menikmati keindahan taman Vondelpark

IMG_3151

IMG_3206
Salah satu spot wajib untuk foto

Tempat kedua yang kami kujungi adalah Keukenhof yang terletak di kota Lisse. Dari Amsterdam kami menggunakan bus yang langsung mengantarkan para turis ke Keukenhof. Waktu terbaik untuk mengunjungi Keukenhof adalah pada musim semi sekitar bulan April sampai awal Mei karena pada saat tersebut seluruh bunga yang ada disana sedang mekar. Maka jangan heran jika tempat tersebut disesaki para turis dari berbagai negara. Selama disana kita bisa menikmati keindahan jutaan bunga yang ditata sangat apik dan dikelompokan berdasarkan jenis dan warna bunga. Bunga yang paling menarik tentu saja tulip yang menjadi ciri khas Belanda.

IMG_3258
Bunga tulip

Bruges

Kota kedua yang kami kunjungi adalah Bruges di Belgia. Kami menggunakan kereta Thalys dari Amsterdam ke Antwerpen kemudian dilanjutkan menggunakan Belgian Rail menuju ke Bruges. Hampir sama seperti Amsterdam, kota tua Bruges dikelilingi oleh kanal-kanal yang bisa dinikmati para turis menggunakan perahu. Karena terletak di bagian utara Eropa, terkadang Bruges dijuluki Venice of The North atau Venice dari Utara. Tujuan kami kesini adalah untuk menikmati keindahan kota tua Bruges yang dinobatkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Cara terbaik untuk menikmati keindahan kota ini adalah dengan bersepeda atau berjalan kaki. Karena ini merupakan kawasan kota tua maka tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang sehingga sangat nyaman untuk berjalan kaki atau bersepeda.

IMG_3311
Perjalanan meunju Bruges

Selama disana kami berkeliling kota dengan berjalan kaki menikmati keindahan bangunan-bangunan khas eropa yang meskipun sudah tua tapi masih terawat dan terlihat kokoh, berjalan dipinggir kanal, dan mengunjungi beberapa gereja salah satunya adalah The Church of Our Lady yang menyimpan salah satu karya Michelangelo, patung Madona and Child. Selain tempat-tempat tersebut, hal yang tidak boleh dilupakan selama berada di Bruges adalah menikmati coklat panas khas Belgia di cafe-cafe yang banyak terdapat disana. Selain itu kita bisa membeli oleh-oleh coklat khas Belgia dengan berbagai macam rasa dan bentuk dengan harga yang cukup murah di bandingkan kota lain di Eropa. Bagi para penggemar fotografi atau arsitektur, banyak sekali spot menarik yang bisa dijadikan objek foto.

IMG_3678
Salah satu tempat untuk bersantai sambil menikmati Bruges

Paris

Kota ke-3 yang kami kunjungi adalah Paris. Sama seperti sebelumnya, untuk menuju ke ibukota Perancis ini kami menggunakan kereta. Tujuan kami kesini tentu saja untuk melihat objek wisata yang menjadi icon kota Paris, seperti menara Eiffel, Arc de Triomphe, katedral Notre Dame dan museum Louvre. Untuk menikmati kota Paris dan objek wisata tersebut kami memilih menggunakan bus hop on hop off karena lebih praktis dan lebih murah dibandingkan menggunakan taxi. Selain tempat tersebut kami juga berkunjung ke Place de la Concorde, jembatan Pont des Arts atau jembatan gembok cinta dan sungai Seine. Bagi yang ingin belanja wajib berkunjung ke Champ Elysee atau Galeries Lafayette. Sedangkan jika ingin mencoba menjadi seorang Parisian, maka cara terbaik adalah dengan makan atau sekedar minum teh/kopi di cafe atau restauran yang banyak dijumpai di Paris.

IMG_3929
Paris Je T’aime
IMG_3825
Wonderful Indonesia

Dibalik keindahan kotanya ternyata Paris menyimpan cerita kelam. Tidak seperti Amsterdam atau Bruges yang serba teratur dan aman, transportasi umum disana tidak terlalu bagus (setidaknya itu yang kami rasakan) dan kriminalitasnya sangat tinggi. Di beberapa tempat banyak sekali dijumpai para imigran atau gelandangan dengan perangai yang mencurigakan. Jadi sebaiknya hindari berjalan di tempat sepi. Kami sendiri mengalami hal yang tidak mengenakan karena salah satu koper teman saya dicuri pada saat akan masuk ke stasiun metro. Selain itu saya sempat dipaksa memberikan “sumbangan” oleh beberapa perempuan di sekitar Arc de Triomphe.

Note : seluruh foto merupakan koleksi pribadi

Melihat Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting

Libur tlah tiba…libur tlah tiba…horey. Liburan akhir tahun ini saya memutuskan untuk ke Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Taman Nasional yang terletak di Kab Kotawaringin Barat ini merupakan salah satu tempat konservasi orangutan yang ada di Indonesia. Disini kita bisa melihat orangutan di habitatnya langsung. Konservasi disini didanai langsung oleh Orangutan Foundation International (OFI).

Cukup mudah untuk bisa sampai di Tanjung Puting. Jika ingin praktis cukup mengikuti open trip (OT) yang banyak ditawarkan di dunia maya. Banyak pilihan paket yang ditawarkan dari yang biasa saja sampai yang mewah. Tinggal dipilih sesuai budget.

Karena saya ikut OT maka meeting point dengan guide dilakukan di Bandara Iskandar Pangkalan Bun. Ada 2 maskapai yang melayani penerbangan Jakarta-Pangkalan Bun yaitu NAM Air dan Trigana Air. Sebaiknya jadwal pesawat disesuaikan dengan jadwal keberangkatan kapal. Dari bandara kami langsung diantar ke dermaga Kumai. Disana kapal yang akan membawa kami selama trip sudah siap. Selama trip kami menginap di kapal kayu, mirip di Komodo hanya saja ini di sungai.

IMG_0166
Selamat datang di TN Tanjung Puting
2017-12-25-PHOTO-00000092
Peserta open trip

Hari Pertama

Dari dermaga Kumai kami langsung menuju ke Camp Tanjung Harapan. Waktu yang ditempuh sekitar 1,5 – 2 jam. Selama perjalanan mengarungi sungai Sekonyer, di kanan-kiri sungai dipenuhi oleh pohon nipah dan pandan. Sesampainya di dermaga Tanjung Harapan kami harus treking kedalam hutan sekitar 20 menit. Karena musim hujan otomatis medannya cukup menantang karena licin dan banyak genangan. Ditambah lagi banyak sekali ditemui semut api yang jika menggigit akan sangat menyakitkan. Saya sendiri sempat digigit 2 kali dan rasanya campur aduk antara sakit, panas dan gatal. Tapi untungnya hanya sekitar 5-10 menit saja.

IMG_0194
Sepanjang aliran sungai dipenuhi oleh pohon nipah dan pandan
IMG_0200
Trek menuju camp Tanjung Harapan
IMG_0211
Selfie dulu. Hehe

Selama disana kita bisa melihat atraksi pemberian makan orangutan oleh ranger. Makanannya tidak diberikan secara langsung tetapi diletakan di tempat seperti panggung kecil. Makanan yang diberikan biasanya pisang, jagung, mangga, ubi dan singkong. Setelah dipanggil oleh ranger, para orangutan akan turun dari pohon dan langsung memakan makanan yang sudah disediakan. Acara pemberian makan ini berlangsung sekitar 2 jam mulai dari jam 3 – 5 sore.

Setelah puas melihat tingkah lucu para orangutan, kapal membawa kami menyusuri sungai. Tak berapa lama kapal kami berhenti karena ada segerombolan bekantan yang sedang mencari makan diatas pohon. Tingkah lakunya yang lucu menjadi tontonan para turis yang datang.

Kami bermalam diatas kapal yang bersandar di dermaga Tanjung Harapan. Tidak seperti makan sebelumnya yang diatas kapal, makan malam kali ini disajikan di dermaga. Kami makan dibawah langit Borneo yang dipenuhi bintang meskipun sebelumnya sempat gelap tertutup awan.

2017-12-26-PHOTO-00000193
Makan diatas kapal

Hari Kedua

Di hari kedua kami mengunjungi 2 camp yaitu camp Pondok Tanggui dan camp Leakey. Sama seperti sebelumnya, di camp ini pun kami akan menyaksikan atraksi pemberian makan orangutan. Trek menuju camp Pondok Tanggui lebih mudah dibandingkan dengan Tanjung Harapan dan orangutan yang datangpun lebih banyak. Pemberian makan dimulai pukul 9 pagi. Tingkah laku orangutan yang lucu membuat para turis takjub dan kadang membuat kami tertawa.

Setelah puas di Pondok Tanggui kami langsung menujun ke camp Leakey. Orangutan disini lebih banyak dibandingkan 2 camp sebelumnya. Selain itu mereka lebih ‘berbaur’ dengan pengunjung. Jangan heran jika di dermaga pun kita bisa melihat mereka lebih dekat. Beberapa dari mereka ada yang jahil dengan menarik barang-barang pengunjung atau masuk ke kapal untuk mengambil makanan. Jika tidak dicegah maka bisa dipastikan seisi kapal bisa hancur berantakan. Trek disini yang paling jauh dan paling sulit. Sayangnya karena hujan lebat kami memutuskan untuk kembali ke kapal.

IMG_0298
Antrian kapal di dermaga camp Leakey
IMG_0328
Suasana sore hari di sungai Sekonyer

DSCF2364

Dari camp Leakey kami kembali menyusuri sungai mencari tempat bersandar. Di sepanjang perjalanan banyak sekali dijumpai gerombolan bekantan dan monyet yang berada di atas pohon. Setelah perjalanan sekitar 2-3 jam akhirnya kami menemukan tempat bersandar di dekat pohon nipah. Kami semua takjub karena tempat tersebut dipenuhi oleh kunang-kunang yang membuat pohon nipah menjadi seperti pohon natal yang dipenuhi lampu.

IMG_0318
Sunrise di sungai Sekonyer

Hari Ketiga

Tidak banyak yang dilakukan pada hari ketiga. Pagi-pagi kami bersiap untuk kembali ke Kumai. Sesampainya di Kumai kita bisa langsung ke bandara atau bisa ke tempat souvenir untuk membeli oleh-oleh.

2017-12-25-PHOTO-00000114
Sayonara Tanjung Puting

 

Takabonerate, Mutiara dari Timur

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman perjalanan saya pada tahun 2016  saat mengunjungi salah satu kepulauan cantik di perairan Sulawesi Selatan, Kepulauan Takabonerate. Saya pergi dengan 6 orang teman pada bulan Agustus 2016. Kali ini kami ikut private trip yang kami arrange sendiri. So, langsung aja ya…

Takabonerate terletak di bagian utara laut Flores atau sebelah selatan Pulau Sulawesi, kalau di peta letaknya antara Sulawesi dan Flores / Nusa Tenggara. Pulau ini mempunyai atol terluas ke-3 di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa dan telah dinobatkan sebagai Taman Nasional. Secara administratif pulau ini termasuk kedalam wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Letaknya yang cukup jauh dan terpencil membuatnya belum begitu ramai didatangi wisatawan. Jika dari Jakarta ada 2 alternatif menuju kesana. Pertama, melalui jalan darat via Bira dilanjutkan dengan menggunakan kapal ke Selayar dan Takabonerate dengan rute lengkap Jakarta – Makasar – Bira – Selayar – Takabonerate. Kedua, rute udara via Selayar dilanjutkan dengan menggunakan kapal ke Takabonerate dengan rute lengkap Jakarta – Makasar – Selayar – Takabonerate. Jika ingin lebih nyaman dan cepat bisa dipilih alternatif kedua, tetapi jika ingin lebih hemat dan memiliki waktu yang cukup panjang silakan pilih alternatif pertama. Jika menggunakan alternatif pertama, perjalanannya memang sedikit melelahkan tetapi jika waktu kita lebih banyak sebenarnya menjadi nilai tambah karena kita bisa mampir ke objek wisata lain salah satunya Tanjung Bira dan Apparalang.

Kami sendiri memilih rute kombinasi, pergi dengan alternatif pertama sedangkan pulangnya dengan alternatif kedua sehingga rute lengkapnya menjadi Jakarta – Makasar – Bira – Selayar – Takabonerate – Selayar – Makasar – Jakarta. Sekitar jam 10 malam kami pergi dari Makasar ke Bira menggunakan mobil omprengan yang ada di sekitar terminal dengan waktu tempuh sekitar 6 – 8 jam. Bisa juga menggunakan bus tetapi waktu tempuhnya lebih lama. Karena malam jadi selama perjalanan tidak banyak yang bisa dilihat. Kami sampai di pelabuhan Bira sekitar jam 8 pagi dan langsung membeli tiket kapal Pelni menuju ke Selayar. Perjalanan dari Bira ke Selayar ditempuh sekitar 2 – 3 jam tergantung kondisi laut. Kami sendiri sampai di Selayar sekitar jam 12. Dikarenakan kapal yang akan membawa kami dari Selayar menuju Takabonerate belum datang, kami terpaksa menunggu terlebih dahulu di salah satu Dive Center yang ada di Selayar. Yup, kami memang berencana untuk diving di beberapa dive site yang ada disana.

IMG_3251
Pemandangan di Pelabuhan Bira
IMG_3003
Kapal yang membawa kami ke Selayar

Menjelang magrib kapal yang akan membawa kami akhirnya datang juga. Kami benar-benar berangkat sekitar jam 7 malam dari dermaga kecil yang ada di Selayar. Kapal yang digunakan bukan speed boat melainkan kapal kayu, jadi selama perjalanan suaranya cukup bising oleh suara mesin. Karena tidak banyak yang bisa dilihat, perjalanannya cukup membosankan. Kami hanya bisa melihat bulan dan bintang – bintang yang ada di langit. Sebenarnya perjalanan malam hari lebih nyaman karena tidak tersengat panasnya sinar matahari apalagi waktu tempuhnya lebih dari 5 jam. Sepanjang perjalanan kami gunakan untuk istirahat sambil sesekali berbincang dengan awak kapal. Lewat tengah malam akhirnya kami sampai di pulau Rajuni, salah satu pulau yang berpenghuni, dan langsung dibawa ke salah satu rumah warga. Selama disana kami menginap di rumah warga karena belum ada penginapan. Sisa malam itu kami gunakan untuk istirahat karena besok paginya kami sudah memulai petualangan.

Saya tidak akan menceritakan secara detail perjalanan saya selama disana, pertama karena terlalu panjang dan kedua karena saya lupa detailnya. Haha. Selama beberapa hari disana kami hopping island ke beberapa pulau diantaranya Tinabo, Tarupa dan Latondu. Tak lupa kami juga singgah di salah satu gusung yang ada disana. Pada saat itu satu-satunya penginapan yang ada hanya di pulau Tinabo yang memang khusus untuk wisata. Wisatawan yang tidak menginap masih boleh berkunjung kesana. Daya tarik utama pulau ini adalah kita bisa bermain-main dengan baby shark di sekitar pantainya. Selain itu kita juga bisa menikmati sunset sambil canoeing.

Salah satu tujuan kami kesini adalah untuk menikmati alam bawah lautnya dengan menyelam di beberapa dive site. Karena keterbatasan waktu kami hanya menyelam di 3 titik penyelaman dan yang paling membuat kami kagum adalah pada saat melakukan wall diving atau menyelam di lereng atau ngarai laut. Ini adalah pengalaman pertama saya melakukan wall diving. Rasanya campur aduk antara takut karena yang terlihat dibawah kaki hanya kegelapan dan takjub melihat begitu indah hewan maupun tumbuhan yang ada disana. Selama penyelaman kami melakukan sesi foto (ala-ala Nadine & Marischka Prue. Hehe) pengibaran bendera merah putih. Saking asiknya tanpa sadar kami telah melewati batas kedalaman bagi penyelam pemula seperti kami, kami menyelam lebih dari 30 meter. Bagi yang tidak bisa menyelam tetap dapat menikmati keindahan bawah laut Takabonerate dengan snorkling.

DSCN0399
Foto diantara karang-karang cantik
DSCN0315
Selfie time
DSCN0268
Wefie time
DSCN0261
Berkibarlah benderaku

Salah satu aktivitas hopping island yang kami lakukan adalah mengunjungi salah satu gusung / pasir timbul yang ada disana. Gusung yang kami kunjungi tidak terlalu luas tetapi sangat instagramable, dengan hamparan pasir putih yang begitu halus dan degradasi warna laut dari hijau menjadi biru yang begitu indah. Gusung ini pun menjadi tempat persinggahan ratusan burung (entah apa namanya) selama mereka mencari makan.

IMG_3240
Kawanan burung di salah satu gusung

Kami sempat berkunjung ke salah satu pulau berpenghuni untuk solat Jumat. Setelah itu dilanjutkan dengan menikmati kelapa muda disalah satu sudut pulau yang dipenuhi oleh pohon kelapa.

IMG_3444
Panas-panas enaknya minum air kelapa muda
IMG_3180
Chilling time
DSCF2195
Salah satu spot foto yang kami jumpai

Selama beberapa hari disana, kami sempat berbincang dengan warga setempat dan kami sempat menyaksikan aktivitas warga menghantarkan calon jemaah haji. Seperti penduduk Indonesia pada umumnya, penduduk disini sangat ramah dan cukup terbuka terhadap wisatawan. Sebagai informasi bahwa disana listrik hanya ada pada malam hari jadi usahakan semua alat elektronik di-charge pada malam hari.

IMG_3255
Calon jemaah haji dihantarkan oleh warga

Butuh waktu lama untuk bisa mengunjungi seluruh pulau dan dive site yang ada. Karena keterbatasan waktu kami harus kembali ke rutinitas sehari-hari di Jakarta. Kami pulang dengan rute yang berbeda dari saat kami kesana. Agar tidak terlalu lelah kami memilih jalur udara dari Selayar menuju Makasar. Penerbangan Selayar – Makasar dan sebaliknya tidak setiap hari sehingga pastikan itinerary kalian sesuai dengan jadwal penerbangan jika ingin menggunakan pesawat.

Itu lah pengalaman saya selama mengunjungi Takabonerate. See you on the next trip