Melihat, Menikmati & Mengabadikan Keindahan Jepang Melalui Kamera

Siapa yang tak kenal Jepang, Negara yang terletak di Asia Timur ini merupakan salah satu tujuan favorit traveller dunia. Selain menawarkan keindahan alam, Jepang dikenal dengan kerahaman penduduk dan kulinernya yang selalu menggugah selera. Bagi pecinta fotografi, kota-kota di Jepang menawarkan berjuta-juta objek yang siap diabadikan kamera kesayangan, mulai dari hiruk pikuk manusia di Shibuya, keramaian di kedai-kedai makanan, sampai dengan keindahan aliran sungai di Aomori. Kali ini saya akan berbagi pengalaman perjalanan saya ke Jepang pada Oktober tahun lalu melalui foto yang saya ambil selama berada disana.

Kembali ke alam dengan menyusuri Oirase Stream

Ingin pengalaman yang sedikit berbeda selama di Jepang? cobalah berkunjung ke Aomori. Lumayan jauh memang dari Tokyo tapi keindahan alamnya dijamin bakal menyejukan mata dan pikiran. Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan disana antara lain : menyusuri dan menikmati keindahan serta sejuknya Oirase Stream, berkeliling dengan ferry di Danau Towada, melihat keindahan Hirosaki Castle dan wisata petik apel di Hirosaki. Siapkan saja stamina dan bekal yang cukup karena untuk menikmati keindahan Oirase Stream akan lebih mengasyikan dengan berjalan kaki. Cerita lengkap mengenai perjalanan saya di Aomori bisa dibaca disini.

IMG_6892
Oirase Stream, Aomori
IMG_6895
Danau Towada, Aomori
IMG_6896
Hirosaki Castle & perkebunan apel di Hirosaki, Aomori

Berburu di hutan beton

Jepang merupakan salah satu Negara dengan jumlah gedung pencakar langit terbesar di dunia. Di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka, deretan gedung pencakar langit siap memanjakan para pecinta fotografi khususnya pecinta landscape/cityscape photography. Salah satu tempat favorit pecinta fotografi, dan traveler tentunya, adalah Mori Tower yang berada di Roppongi. Di gedung ini terdapat observation deck yang selalu dipenuhi para turis yang ingin melihat keindahan Tokyo dari ketinggian.

IMG_6899
Melihat keindahan Tokyo dari Mori Tower
IMG_6901
Gedung pencakar langit menghiasi sudut-sudut kota Tokyo dan Osaka

 

Selain gedung-gedung pencakar langit, disana juga banyak gedung atau bangunan-bangunan iconic yang sayang untuk dilewatkan, seperti : Sensoji Temple, Azuma Bridge, Asahi Beer Hall, Rainbow Bridge dan Tokyo Skytree.

IMG_6902
Beberapa lokasi menarik untuk dikunjungi dan diabadikan

Melihat keseharian penduduk Jepang melalui street photography

Salahsatu daya tarik Jepang adalah keramahan dan kebiasaan warganya yang unik dan jarang ditemui di Indonesia. Selain itu, perpaduan budaya tradisional dan modern yang yang menjadi kesehariannya pun bisa menjadi daya tarik para turis. Pasar, pusat perbelanjaan, kereta api, stasiun, kuil atau kedai-kedai makanan merupakan tempat yang pas untuk melihat keseharian mereka.

IMG_6912
Tranportasi publik yang sangat modern dan bersih
IMG_6913
Deretan kios makanan di Tennoji, Osaka
IMG_6915
Masyarajat Jepang bangga dengan budaya tradisionalnya

Tempat wisata mainstream? Why not

Jika baru pertama kali ke Jepang rasanya tak lengkap jika tidak mengunjungi tempat-tempat mainstream seperti Nara Park, Shibuya crossing, Hitachi Seaside Park, Tokyu Plaza, Meiji Jingu Shrine, Arashiyama, Fushimi Inari Shrine atau Osaka Castle.

IMG_6893
Keindahan tanaman Kochia yang mulai memerah di Hitachi Seaside Park

 

IMG_6925
Pengunjung bisa bercengkrama dengan rusa yang ada di Nara Park

 

IMG_6926
Objek wisata mainstream di Osaka & Kyoto
IMG_6927
Osaka Castle
IMG_6928
Shibuya yang tak pernah sepi

 

IMG_6932
Meiji Jingu Shrine

Itulah hasil jalan-jalan saya ke Jepang, semoga bisa menginspirasi.

IMG_6929
Belum lengkap rasanya jalan-jalan tanpa selfie. Hehe

Salam,

 

Japan Trip (Part 1) : Menikmati (Awal) Musim Gugur di Aomori

Awal Oktober kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi Jepang selama sekitar 2 minggu. Disana saya mengunjungi beberapa kota yaitu Tokyo, Osaka, Kyoto dan Aomori. Salah satu tujuan trip kali ini adalah untuk menikmati keindahan musim gugur dan saya memilih Aomori untuk saya kunjungi. Kenapa Aomori? ada beberapa alasan kenapa saya memilih Aomori sebagai tujuan saya:

  1. Wilayah tersebut merupakan salah satu wilayah yang mengalami musim gugur lebih awal dibandingkan wilayah lain di Jepang karena pada umumnya puncak musim gugur di Jepang sekitar bulan November. Beberapa wilayah di Jepang, terutama bagian utara dan dataran tinggi, mengalami musim gugur lebih awal yaitu sekitar bulan Oktober. Aomori sendiri merupakan prefektur paling utara yang berada di pulau Honshu. 
  2. Saya ingin melihat keindahan musim gugur di Danau Towada dan Oirase Stream. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari japan-guide.com , Danau Towada dan Oirase Stream merupakan salah satu spot terbaik untuk menikmati keindahan musim gugur di Jepang.
  3. Saya ingin fokus menikmati keindahan alam dan menjauh dari hiruk pikuk kota besar seperti Tokyo atau Osaka. 

Perjalanan saya di Aomori sendiri tidak terlalu lama, hanya sekitar 3 hari. Selama disana saya menginap di apartemen salah satu mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S3 di Hirosaki University yang berada di kota Hirosaki (lumayan menghemat biaya akomodasi. hehe). Hirosaki sendiri merupakan salah satu kota di prefektur Aomori yang berjarak sekitar 40 km dari stasiun Shin-Aomori dan dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kereta dari stasiun Shin-Aomori.

Kebun Apel Hirosaki

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah kebun apel yang berada di kota Hirosaki. Hirosaki dan Aomori memang terkenal sebagai penghasil apel. Di kebun tersebut kita bisa menikmati keindahan hamparan pohon apel dan landscape Hirosaki dari ketinggian. Selain itu, kita bisa membeli apel yang kita petik langsung dari pohonnya. Apel yang kita petik akan ditimbang dan dihargai sekitar 300 – 500 yen per kilonya. Untuk mengujungi tempat ini kita bisa menggunakan taxi atau bus dari pusat kota Hirosaki dengan tarif sekitar 1000 yen sekali jalan.

Hirosaki Castle

Tempat kedua yang saya datangi adalah Hirosaki Castle yang berada di pusat kota Hirosaki. Tempat ini hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat saya menginap sehingga bisa diakses dengan berjalan kaki. Seperti castle di Jepang pada umumnya, castle ini pun dikelilingi oleh taman yang sangat luas dan rindang. Pohon-pohon besar berbagai jenis berderet sepanjang jalan menuju castle yang berada di tengah taman. Sebenarnya castle ini tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan Osaka Castle yang sangat megah. Karena saya datang sudah sore menjelang malam, suasana di sekitar castle lumayan sepi sehingga saya bisa leluasa untuk mengambil foto tanpa harus berebut dengan turis lain untuk mendapatkan posisi terbaik. Setiap tahun selalu diadakan festival musim gugur di Hirosaki Castle tetapi sayang saya kurang beruntung karena festival tersebut baru diadakan minggu berikutnya.

Oirase Stream

Sesuai rencana, keesokan harinya saya pergi ke Oirase Stream dan Danau Towada yang masih berada di prefektur Aomori. Untuk menuju kesana saya harus menggunakan kereta ke stasiun Shin-Aomori atau stasiun Aomori terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan bus. Perjalanan dari Shin-Aomori ke Oirase Stream sekitar 2,5 jam dengan beberapa kali pemberhentian. Pemberhentian tersebut umumnya merupakan onsen atau pemandian air panas khas Jepang. Selain dikenal akan buah apelnya, Aomori juga dikenal karena banyaknya onsen. Selama perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan pegunungan yang sangat menakjubkan. Karena pada saat itu belum memasuki puncak musim gugur maka sebagian besar pohon masih hijau tetapi sudah ada beberapa pepohonan yang mulai berubah warna menjadi kuning atau merah. Di setengah perjalanan, bus akan melewati daerah yang lebih tinggi dimana di tempat ini mayoritas dedauan sudah berubah menjadi kuning atau merah.

Setelah perjalanan sekitar 2.5 jam akhirnya saya sampai di Oirase Stream. Oirase Stream sendiri merupakan jalur hiking yang berada di pinggir aliran sungai yang airnya bersumber dari Danau Towada. Oirase Stream ini dimulai dari Nenokuchi (pinggir Danau Towada) sampai dengan Yakeyama dengan jarak sekitar 14 km. Waktu yang diperlukan untuk berjalan sepanjang jalur tersebut sekitar 5 jam. Tetapi jangan khawatir karena sepanjang jalur tersebut terdapat beberapa pemberhentian bus sehingga kita bisa turun ataupun naik pada spot yang kita inginkan saja tanpa harus berjalan sepanjang 14 km. Untuk jalurnya terserah kita, mau Nenokuchi – Yakeyama (dari atas ke bawah) atau Yakeyama – Nenokuchi (dari bawah ke atas). Saya sendiri memilih memulai dari bawah ke atas. Karena waktu yang terbatas, saya hanya berjalan di beberapa spot terbaik saja, sisanya saya kembali menggunakan bus menuju Danau Towada. Karena ini merupakan aliran sungai maka kita akan disuguhkan dengan keindahan sungai dengan airnya yang sangat jernih, pepohonan dengan daunnya yang mulai menguning serta jeram dan air terjun yang akan membuat kita berdecak kagum. 

Danau Towada

Tujuan terakhir saya adalah Danau Towada yang merupakan salah satu danau terbesar di Jepang. Sesampainya disana saya sedikit kecewa karena sebagian besar pohon masih berwarna hijau dan sepertinya puncak musim gugur disana baru akan terjadi sekitar akhir Oktober. Untuk menikmati keindahan danau sebenarnya kita bisa menaiki ferry, tetapi karena pada saat itu sudah sore dan gerimis saya hanya melihat keindahannya dari pinggir danau saja.

 Resume 

  1. Transportasi :
    • Stasiun Shin-Aomori – Stasiun Hirosaki : kereta Ou Line, sekitar 1 jam, 500 – 1600 yen (free jika menggunakan JR Pass)
    • Stasiun Shin-Aomori – Oirase Stream / Danau Towada : JR Bus, sekitar 2,5 – 3 jam, sekitar 3000 yen (free jika menggunakan JR Pass)
    • Stasiun Tokyo – stasiun Shin-Aomori : Shinkansen Tohoku (seluruh tempat duduk harus dipesan terlebih dahulu), sekitar 3 jam, sekitar 17.000 yen (free jika menggunakan JR Pass
  2. Akomodasi : tarif hotel bervariasi, rata-rata tarif hotel bintang 3 di Jepang diatas 1 – 1,5 juta per malam
  3. Waktu terbaik : akhir Oktober – awal November
  4. Suhu : umumnya belasan sampai dibawah 10 derajat
  5. Score : 4 dari 5 (4,5 pada puncak musim gugur)

Melihat Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting

Libur tlah tiba…libur tlah tiba…horey. Liburan akhir tahun ini saya memutuskan untuk ke Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Taman Nasional yang terletak di Kab Kotawaringin Barat ini merupakan salah satu tempat konservasi orangutan yang ada di Indonesia. Disini kita bisa melihat orangutan di habitatnya langsung. Konservasi disini didanai langsung oleh Orangutan Foundation International (OFI).

Cukup mudah untuk bisa sampai di Tanjung Puting. Jika ingin praktis cukup mengikuti open trip (OT) yang banyak ditawarkan di dunia maya. Banyak pilihan paket yang ditawarkan dari yang biasa saja sampai yang mewah. Tinggal dipilih sesuai budget.

Karena saya ikut OT maka meeting point dengan guide dilakukan di Bandara Iskandar Pangkalan Bun. Ada 2 maskapai yang melayani penerbangan Jakarta-Pangkalan Bun yaitu NAM Air dan Trigana Air. Sebaiknya jadwal pesawat disesuaikan dengan jadwal keberangkatan kapal. Dari bandara kami langsung diantar ke dermaga Kumai. Disana kapal yang akan membawa kami selama trip sudah siap. Selama trip kami menginap di kapal kayu, mirip di Komodo hanya saja ini di sungai.

IMG_0166
Selamat datang di TN Tanjung Puting
2017-12-25-PHOTO-00000092
Peserta open trip

Hari Pertama

Dari dermaga Kumai kami langsung menuju ke Camp Tanjung Harapan. Waktu yang ditempuh sekitar 1,5 – 2 jam. Selama perjalanan mengarungi sungai Sekonyer, di kanan-kiri sungai dipenuhi oleh pohon nipah dan pandan. Sesampainya di dermaga Tanjung Harapan kami harus treking kedalam hutan sekitar 20 menit. Karena musim hujan otomatis medannya cukup menantang karena licin dan banyak genangan. Ditambah lagi banyak sekali ditemui semut api yang jika menggigit akan sangat menyakitkan. Saya sendiri sempat digigit 2 kali dan rasanya campur aduk antara sakit, panas dan gatal. Tapi untungnya hanya sekitar 5-10 menit saja.

IMG_0194
Sepanjang aliran sungai dipenuhi oleh pohon nipah dan pandan
IMG_0200
Trek menuju camp Tanjung Harapan
IMG_0211
Selfie dulu. Hehe

Selama disana kita bisa melihat atraksi pemberian makan orangutan oleh ranger. Makanannya tidak diberikan secara langsung tetapi diletakan di tempat seperti panggung kecil. Makanan yang diberikan biasanya pisang, jagung, mangga, ubi dan singkong. Setelah dipanggil oleh ranger, para orangutan akan turun dari pohon dan langsung memakan makanan yang sudah disediakan. Acara pemberian makan ini berlangsung sekitar 2 jam mulai dari jam 3 – 5 sore.

Setelah puas melihat tingkah lucu para orangutan, kapal membawa kami menyusuri sungai. Tak berapa lama kapal kami berhenti karena ada segerombolan bekantan yang sedang mencari makan diatas pohon. Tingkah lakunya yang lucu menjadi tontonan para turis yang datang.

Kami bermalam diatas kapal yang bersandar di dermaga Tanjung Harapan. Tidak seperti makan sebelumnya yang diatas kapal, makan malam kali ini disajikan di dermaga. Kami makan dibawah langit Borneo yang dipenuhi bintang meskipun sebelumnya sempat gelap tertutup awan.

2017-12-26-PHOTO-00000193
Makan diatas kapal

Hari Kedua

Di hari kedua kami mengunjungi 2 camp yaitu camp Pondok Tanggui dan camp Leakey. Sama seperti sebelumnya, di camp ini pun kami akan menyaksikan atraksi pemberian makan orangutan. Trek menuju camp Pondok Tanggui lebih mudah dibandingkan dengan Tanjung Harapan dan orangutan yang datangpun lebih banyak. Pemberian makan dimulai pukul 9 pagi. Tingkah laku orangutan yang lucu membuat para turis takjub dan kadang membuat kami tertawa.

Setelah puas di Pondok Tanggui kami langsung menujun ke camp Leakey. Orangutan disini lebih banyak dibandingkan 2 camp sebelumnya. Selain itu mereka lebih ‘berbaur’ dengan pengunjung. Jangan heran jika di dermaga pun kita bisa melihat mereka lebih dekat. Beberapa dari mereka ada yang jahil dengan menarik barang-barang pengunjung atau masuk ke kapal untuk mengambil makanan. Jika tidak dicegah maka bisa dipastikan seisi kapal bisa hancur berantakan. Trek disini yang paling jauh dan paling sulit. Sayangnya karena hujan lebat kami memutuskan untuk kembali ke kapal.

IMG_0298
Antrian kapal di dermaga camp Leakey
IMG_0328
Suasana sore hari di sungai Sekonyer

DSCF2364

Dari camp Leakey kami kembali menyusuri sungai mencari tempat bersandar. Di sepanjang perjalanan banyak sekali dijumpai gerombolan bekantan dan monyet yang berada di atas pohon. Setelah perjalanan sekitar 2-3 jam akhirnya kami menemukan tempat bersandar di dekat pohon nipah. Kami semua takjub karena tempat tersebut dipenuhi oleh kunang-kunang yang membuat pohon nipah menjadi seperti pohon natal yang dipenuhi lampu.

IMG_0318
Sunrise di sungai Sekonyer

Hari Ketiga

Tidak banyak yang dilakukan pada hari ketiga. Pagi-pagi kami bersiap untuk kembali ke Kumai. Sesampainya di Kumai kita bisa langsung ke bandara atau bisa ke tempat souvenir untuk membeli oleh-oleh.

2017-12-25-PHOTO-00000114
Sayonara Tanjung Puting

 

Takabonerate, Mutiara dari Timur

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman perjalanan saya pada tahun 2016  saat mengunjungi salah satu kepulauan cantik di perairan Sulawesi Selatan, Kepulauan Takabonerate. Saya pergi dengan 6 orang teman pada bulan Agustus 2016. Kali ini kami ikut private trip yang kami arrange sendiri. So, langsung aja ya…

Takabonerate terletak di bagian utara laut Flores atau sebelah selatan Pulau Sulawesi, kalau di peta letaknya antara Sulawesi dan Flores / Nusa Tenggara. Pulau ini mempunyai atol terluas ke-3 di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa dan telah dinobatkan sebagai Taman Nasional. Secara administratif pulau ini termasuk kedalam wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Letaknya yang cukup jauh dan terpencil membuatnya belum begitu ramai didatangi wisatawan. Jika dari Jakarta ada 2 alternatif menuju kesana. Pertama, melalui jalan darat via Bira dilanjutkan dengan menggunakan kapal ke Selayar dan Takabonerate dengan rute lengkap Jakarta – Makasar – Bira – Selayar – Takabonerate. Kedua, rute udara via Selayar dilanjutkan dengan menggunakan kapal ke Takabonerate dengan rute lengkap Jakarta – Makasar – Selayar – Takabonerate. Jika ingin lebih nyaman dan cepat bisa dipilih alternatif kedua, tetapi jika ingin lebih hemat dan memiliki waktu yang cukup panjang silakan pilih alternatif pertama. Jika menggunakan alternatif pertama, perjalanannya memang sedikit melelahkan tetapi jika waktu kita lebih banyak sebenarnya menjadi nilai tambah karena kita bisa mampir ke objek wisata lain salah satunya Tanjung Bira dan Apparalang.

Kami sendiri memilih rute kombinasi, pergi dengan alternatif pertama sedangkan pulangnya dengan alternatif kedua sehingga rute lengkapnya menjadi Jakarta – Makasar – Bira – Selayar – Takabonerate – Selayar – Makasar – Jakarta. Sekitar jam 10 malam kami pergi dari Makasar ke Bira menggunakan mobil omprengan yang ada di sekitar terminal dengan waktu tempuh sekitar 6 – 8 jam. Bisa juga menggunakan bus tetapi waktu tempuhnya lebih lama. Karena malam jadi selama perjalanan tidak banyak yang bisa dilihat. Kami sampai di pelabuhan Bira sekitar jam 8 pagi dan langsung membeli tiket kapal Pelni menuju ke Selayar. Perjalanan dari Bira ke Selayar ditempuh sekitar 2 – 3 jam tergantung kondisi laut. Kami sendiri sampai di Selayar sekitar jam 12. Dikarenakan kapal yang akan membawa kami dari Selayar menuju Takabonerate belum datang, kami terpaksa menunggu terlebih dahulu di salah satu Dive Center yang ada di Selayar. Yup, kami memang berencana untuk diving di beberapa dive site yang ada disana.

IMG_3251
Pemandangan di Pelabuhan Bira
IMG_3003
Kapal yang membawa kami ke Selayar

Menjelang magrib kapal yang akan membawa kami akhirnya datang juga. Kami benar-benar berangkat sekitar jam 7 malam dari dermaga kecil yang ada di Selayar. Kapal yang digunakan bukan speed boat melainkan kapal kayu, jadi selama perjalanan suaranya cukup bising oleh suara mesin. Karena tidak banyak yang bisa dilihat, perjalanannya cukup membosankan. Kami hanya bisa melihat bulan dan bintang – bintang yang ada di langit. Sebenarnya perjalanan malam hari lebih nyaman karena tidak tersengat panasnya sinar matahari apalagi waktu tempuhnya lebih dari 5 jam. Sepanjang perjalanan kami gunakan untuk istirahat sambil sesekali berbincang dengan awak kapal. Lewat tengah malam akhirnya kami sampai di pulau Rajuni, salah satu pulau yang berpenghuni, dan langsung dibawa ke salah satu rumah warga. Selama disana kami menginap di rumah warga karena belum ada penginapan. Sisa malam itu kami gunakan untuk istirahat karena besok paginya kami sudah memulai petualangan.

Saya tidak akan menceritakan secara detail perjalanan saya selama disana, pertama karena terlalu panjang dan kedua karena saya lupa detailnya. Haha. Selama beberapa hari disana kami hopping island ke beberapa pulau diantaranya Tinabo, Tarupa dan Latondu. Tak lupa kami juga singgah di salah satu gusung yang ada disana. Pada saat itu satu-satunya penginapan yang ada hanya di pulau Tinabo yang memang khusus untuk wisata. Wisatawan yang tidak menginap masih boleh berkunjung kesana. Daya tarik utama pulau ini adalah kita bisa bermain-main dengan baby shark di sekitar pantainya. Selain itu kita juga bisa menikmati sunset sambil canoeing.

Salah satu tujuan kami kesini adalah untuk menikmati alam bawah lautnya dengan menyelam di beberapa dive site. Karena keterbatasan waktu kami hanya menyelam di 3 titik penyelaman dan yang paling membuat kami kagum adalah pada saat melakukan wall diving atau menyelam di lereng atau ngarai laut. Ini adalah pengalaman pertama saya melakukan wall diving. Rasanya campur aduk antara takut karena yang terlihat dibawah kaki hanya kegelapan dan takjub melihat begitu indah hewan maupun tumbuhan yang ada disana. Selama penyelaman kami melakukan sesi foto (ala-ala Nadine & Marischka Prue. Hehe) pengibaran bendera merah putih. Saking asiknya tanpa sadar kami telah melewati batas kedalaman bagi penyelam pemula seperti kami, kami menyelam lebih dari 30 meter. Bagi yang tidak bisa menyelam tetap dapat menikmati keindahan bawah laut Takabonerate dengan snorkling.

DSCN0399
Foto diantara karang-karang cantik
DSCN0315
Selfie time
DSCN0268
Wefie time
DSCN0261
Berkibarlah benderaku

Salah satu aktivitas hopping island yang kami lakukan adalah mengunjungi salah satu gusung / pasir timbul yang ada disana. Gusung yang kami kunjungi tidak terlalu luas tetapi sangat instagramable, dengan hamparan pasir putih yang begitu halus dan degradasi warna laut dari hijau menjadi biru yang begitu indah. Gusung ini pun menjadi tempat persinggahan ratusan burung (entah apa namanya) selama mereka mencari makan.

IMG_3240
Kawanan burung di salah satu gusung

Kami sempat berkunjung ke salah satu pulau berpenghuni untuk solat Jumat. Setelah itu dilanjutkan dengan menikmati kelapa muda disalah satu sudut pulau yang dipenuhi oleh pohon kelapa.

IMG_3444
Panas-panas enaknya minum air kelapa muda
IMG_3180
Chilling time
DSCF2195
Salah satu spot foto yang kami jumpai

Selama beberapa hari disana, kami sempat berbincang dengan warga setempat dan kami sempat menyaksikan aktivitas warga menghantarkan calon jemaah haji. Seperti penduduk Indonesia pada umumnya, penduduk disini sangat ramah dan cukup terbuka terhadap wisatawan. Sebagai informasi bahwa disana listrik hanya ada pada malam hari jadi usahakan semua alat elektronik di-charge pada malam hari.

IMG_3255
Calon jemaah haji dihantarkan oleh warga

Butuh waktu lama untuk bisa mengunjungi seluruh pulau dan dive site yang ada. Karena keterbatasan waktu kami harus kembali ke rutinitas sehari-hari di Jakarta. Kami pulang dengan rute yang berbeda dari saat kami kesana. Agar tidak terlalu lelah kami memilih jalur udara dari Selayar menuju Makasar. Penerbangan Selayar – Makasar dan sebaliknya tidak setiap hari sehingga pastikan itinerary kalian sesuai dengan jadwal penerbangan jika ingin menggunakan pesawat.

Itu lah pengalaman saya selama mengunjungi Takabonerate. See you on the next trip