Menikmati Keindahan Tiga Telaga di Kabupaten Kuningan dalam Waktu 6 Jam

Kabupaten Kuningan mungkin belum sepopuler Kota Bandung atau Bogor, tetapi kabupaten yang berada di ujung timur Jawa Barat ini memiliki tempat wisata yang tak kalah indah dibandingkan kedua kota tersebut.  Bisa dibilang Kuningan memiliki jenis wisata lengkap, mulai dari wisata alam / ekowisata, wisata sejarah, wisata reliji, wisata kuliner, wisata budaya bahkan wisata bahari.  Letaknya yang berada di dataran tinggi dan berada persis di kaki Gunung Ciremai membuat kontur alamnya sangat indah dan beriklim sejuk. Kuningan berada di jalur penghubung antara Jawa Barat bagian Utara (Cirebon) dengan Jawa Barat bagian selatan (Ciamis & Tasik) dan berbatasan langsung dengan Cirebon, Majalengka, Ciamis dan Brebes.

Letaknya yang cukup strategis karena dekat dengan tol trans Jawa (Cipali), jalur kereta utara Jawa dan Bandara Kertajati membuat aksesnya relatif mudah. Dengan jarak hanya sekitar 200 km dari Jakarta bisa menjadikan Kuningan sebagai alternatif liburan akhir pekan warga Jakarta selain Bandung atau Bogor. Dari Jakarta kita bisa menggunakan kereta sampai Cirebon kemudian dilanjutkan dengan mobil atau langsung menggunakan mobil melalui tol Cikampek dan Cipali. Waktu yang dibutuhkan sekitar 3-5 jam.

Karena banyaknya tempat wisata yang bisa dikunjungi maka waktu yang diperlukan tidak cukup 1 – 2 hari. Jika kita hanya memiliki waktu yang terbatas maka salah satu alternatifnya adalah mengunjungi tiga telaga yang berada di Desa Kaduela, Kec Mandirancan, yaitu Telaga Biru, Telaga Remis dan Telaga Nilam. Ketiganya terletak berdekatan sehingga waktu yang diperlukan hanya sekitar 6 jam untuk menikmati keindahan kolam atau danau dengan mata air alami tersebut, dengan asumsi kita sudah berada di Cirebon atau Kuningan. Jarak ketiga telaga tersebut dari Cirebon sekitar 15-20 km dengan waktu tempuh sekitar 45-60 menit. Waktu yang paling tepat untuk menikmati ketiga telaga tersebut adalah pagi sampai siang hari. Jika kita ingin mendapatkan foto yang tidak “bocor” disarankan untuk datang pada pagi hari dan weekday karena relatif sepi.

Telaga Biru / Situ Cicerem

Sesuai dengan namanya telaga ini berwarna biru kehijauan terutama di pagi hari. Karena memiliki sumber mata air yang berasal dari kaki gunung Ciremai, air di telaga ini sangat jernih dan dingin. Saking jernihnya dasar telaga dan ikan-ikan dapat terlihat jelas dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Ratusan ikan berwarna-warni tanpa malu-malu akan langsung menghampiri pengunjung yang berada di tepian telaga dan berharap diberikan makanan. Mungkin karena sudah sering diberi makan oleh pengunjung sehingga mereka sudah terbiasa dengan kehadiran manusia. Dengan membeli pakan ikan seharga Rp 3.000,- per bungkus kita bisa menarik perhatian ikan-ikan tersebut agar lebih lama berada dekat kita. Terdapat beberapa jenis ikan diantaranya Mas, Nila, Gurami dan Lele, tetapi yang paling dominan adalah ikan Mas dan Nila.

7C711DB7-0F57-4B07-9CD4-FC345CCA0E19
Selamat datang di Situ Cicerem
0915E136-1600-4EF7-9125-BBF1CF295F8D
Mumpung sepi foto dulu lah yaa..hehe

Selain bermain dengan ikan, pengunjung juga bisa berselfi ria di sekitar telaga yang pasti akan instagramable. Untuk menambah keindahan foto, pengelola mendirikan fasilitas berupa ayunan pada batang pohon yang menjorok ke telaga dan dermaga yang menjorok ke tengah khusus untuk foto. Selain itu di akhir pekan pengunjung bisa bersantai di tepi atau tengah telaga dengan menggunakan balon apung.

4EEBBF80-B29C-40B9-A1C5-9B200C4FD3A9
Jomblo dilarang naik yaaa..Hehe
0514E9B1-B9B5-4720-B0F5-7B8B6712549F
I LOVE U

Jam buka : 08.00 – 17.30 ; harga tiket : Rp 5.000,- ; Parkir : Rp 5.000,-

Telaga Remis

Jarak antara Telaga Biru dengan Telaga Remis hanya sekitar 2 km melewati jalan kecil (kondisi cukup baik) dan berkelok-kelok. Telaga Remis lebih luas dibandingkan dengan Telaga Biru tetapi disini kita tidak bisa melihat ikan-ikan besar berwarna-warni, ikan disini relatif lebih kecil. Dasar kolam dipenuhi oleh tanaman air, berbeda dengan Telaga Biru yang hanya ada batu dan pasir.

95EB9436-FBED-408D-862C-68EF68D51816
Salah satu spot foto di Telaga Remis
Processed with VSCO with oak3 preset
1,,,2,,,3,,, cekrek!!!

Pengunjung bisa menikmati telaga ini dengan menggunakan “bebek-bebekan” atau perahu. Selain itu kita bisa bercengkrama dengan penduduk setempat yang sedang memancing. Menurut salah satu pemancing, ikan yang ada disana mayoritas ikan Nila atau Mujaer dan ada yang beratnya mencapai 6 kg. Bagi pecinta fotografi tempat ini pasti akan membuat betah berlama-lama karena banyak sekali objek foto yang bisa dijadikan bidikan kamera.

Processed with VSCO with al2 preset
Penduduk lokal yang sedang memancing

Jam buka : 08.00 – 17.30 ; harga tiket : Rp 15.000,- ; Parkir : Rp 5.000,-

Telaga Nilam

Jarak dari telaga Remis ke telaga Nilam hanya beberapa ratus meter saja. Berbeda dengan dua telaga sebelumnya, telaga ini ibarat kolam renang alami. Pengunjung bisa berenang sepuasnya sambil menikmati kejernihan dan dinginnya air telaga. Diantara tiga telaga, saya rasa air di telaga ini yang paling jernih mungkin karena dasar telaga didominasi batuan dan tanaman air. Bagi yang membawa anak kecil tidak perlu khawatir karena disini ada kolam yang cukup dangkal yang bisa digunakan berenang oleh anak-anak.

E50A769B-1455-4AD0-9FEB-721549AF0700
Sekilas tentang biota di Telaga Nilam

_DSF2784

CFDB76AC-F70D-4E14-8E8F-01FBDCA2DFCE
Jernih banget ya
Processed with VSCO with au5 preset
Jangan lupa bawa perlengkapan renang ya..

Jam buka : 08.00 – 17.30 ; harga tiket : Rp 10.000,- ; Parkir : Rp 5.000,-

 

 

Melihat Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting

Libur tlah tiba…libur tlah tiba…horey. Liburan akhir tahun ini saya memutuskan untuk ke Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Taman Nasional yang terletak di Kab Kotawaringin Barat ini merupakan salah satu tempat konservasi orangutan yang ada di Indonesia. Disini kita bisa melihat orangutan di habitatnya langsung. Konservasi disini didanai langsung oleh Orangutan Foundation International (OFI).

Cukup mudah untuk bisa sampai di Tanjung Puting. Jika ingin praktis cukup mengikuti open trip (OT) yang banyak ditawarkan di dunia maya. Banyak pilihan paket yang ditawarkan dari yang biasa saja sampai yang mewah. Tinggal dipilih sesuai budget.

Karena saya ikut OT maka meeting point dengan guide dilakukan di Bandara Iskandar Pangkalan Bun. Ada 2 maskapai yang melayani penerbangan Jakarta-Pangkalan Bun yaitu NAM Air dan Trigana Air. Sebaiknya jadwal pesawat disesuaikan dengan jadwal keberangkatan kapal. Dari bandara kami langsung diantar ke dermaga Kumai. Disana kapal yang akan membawa kami selama trip sudah siap. Selama trip kami menginap di kapal kayu, mirip di Komodo hanya saja ini di sungai.

IMG_0166
Selamat datang di TN Tanjung Puting
2017-12-25-PHOTO-00000092
Peserta open trip

Hari Pertama

Dari dermaga Kumai kami langsung menuju ke Camp Tanjung Harapan. Waktu yang ditempuh sekitar 1,5 – 2 jam. Selama perjalanan mengarungi sungai Sekonyer, di kanan-kiri sungai dipenuhi oleh pohon nipah dan pandan. Sesampainya di dermaga Tanjung Harapan kami harus treking kedalam hutan sekitar 20 menit. Karena musim hujan otomatis medannya cukup menantang karena licin dan banyak genangan. Ditambah lagi banyak sekali ditemui semut api yang jika menggigit akan sangat menyakitkan. Saya sendiri sempat digigit 2 kali dan rasanya campur aduk antara sakit, panas dan gatal. Tapi untungnya hanya sekitar 5-10 menit saja.

IMG_0194
Sepanjang aliran sungai dipenuhi oleh pohon nipah dan pandan
IMG_0200
Trek menuju camp Tanjung Harapan
IMG_0211
Selfie dulu. Hehe

Selama disana kita bisa melihat atraksi pemberian makan orangutan oleh ranger. Makanannya tidak diberikan secara langsung tetapi diletakan di tempat seperti panggung kecil. Makanan yang diberikan biasanya pisang, jagung, mangga, ubi dan singkong. Setelah dipanggil oleh ranger, para orangutan akan turun dari pohon dan langsung memakan makanan yang sudah disediakan. Acara pemberian makan ini berlangsung sekitar 2 jam mulai dari jam 3 – 5 sore.

Setelah puas melihat tingkah lucu para orangutan, kapal membawa kami menyusuri sungai. Tak berapa lama kapal kami berhenti karena ada segerombolan bekantan yang sedang mencari makan diatas pohon. Tingkah lakunya yang lucu menjadi tontonan para turis yang datang.

Kami bermalam diatas kapal yang bersandar di dermaga Tanjung Harapan. Tidak seperti makan sebelumnya yang diatas kapal, makan malam kali ini disajikan di dermaga. Kami makan dibawah langit Borneo yang dipenuhi bintang meskipun sebelumnya sempat gelap tertutup awan.

2017-12-26-PHOTO-00000193
Makan diatas kapal

Hari Kedua

Di hari kedua kami mengunjungi 2 camp yaitu camp Pondok Tanggui dan camp Leakey. Sama seperti sebelumnya, di camp ini pun kami akan menyaksikan atraksi pemberian makan orangutan. Trek menuju camp Pondok Tanggui lebih mudah dibandingkan dengan Tanjung Harapan dan orangutan yang datangpun lebih banyak. Pemberian makan dimulai pukul 9 pagi. Tingkah laku orangutan yang lucu membuat para turis takjub dan kadang membuat kami tertawa.

Setelah puas di Pondok Tanggui kami langsung menujun ke camp Leakey. Orangutan disini lebih banyak dibandingkan 2 camp sebelumnya. Selain itu mereka lebih ‘berbaur’ dengan pengunjung. Jangan heran jika di dermaga pun kita bisa melihat mereka lebih dekat. Beberapa dari mereka ada yang jahil dengan menarik barang-barang pengunjung atau masuk ke kapal untuk mengambil makanan. Jika tidak dicegah maka bisa dipastikan seisi kapal bisa hancur berantakan. Trek disini yang paling jauh dan paling sulit. Sayangnya karena hujan lebat kami memutuskan untuk kembali ke kapal.

IMG_0298
Antrian kapal di dermaga camp Leakey
IMG_0328
Suasana sore hari di sungai Sekonyer

DSCF2364

Dari camp Leakey kami kembali menyusuri sungai mencari tempat bersandar. Di sepanjang perjalanan banyak sekali dijumpai gerombolan bekantan dan monyet yang berada di atas pohon. Setelah perjalanan sekitar 2-3 jam akhirnya kami menemukan tempat bersandar di dekat pohon nipah. Kami semua takjub karena tempat tersebut dipenuhi oleh kunang-kunang yang membuat pohon nipah menjadi seperti pohon natal yang dipenuhi lampu.

IMG_0318
Sunrise di sungai Sekonyer

Hari Ketiga

Tidak banyak yang dilakukan pada hari ketiga. Pagi-pagi kami bersiap untuk kembali ke Kumai. Sesampainya di Kumai kita bisa langsung ke bandara atau bisa ke tempat souvenir untuk membeli oleh-oleh.

2017-12-25-PHOTO-00000114
Sayonara Tanjung Puting

 

Takabonerate, Mutiara dari Timur

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman perjalanan saya pada tahun 2016  saat mengunjungi salah satu kepulauan cantik di perairan Sulawesi Selatan, Kepulauan Takabonerate. Saya pergi dengan 6 orang teman pada bulan Agustus 2016. Kali ini kami ikut private trip yang kami arrange sendiri. So, langsung aja ya…

Takabonerate terletak di bagian utara laut Flores atau sebelah selatan Pulau Sulawesi, kalau di peta letaknya antara Sulawesi dan Flores / Nusa Tenggara. Pulau ini mempunyai atol terluas ke-3 di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa dan telah dinobatkan sebagai Taman Nasional. Secara administratif pulau ini termasuk kedalam wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Letaknya yang cukup jauh dan terpencil membuatnya belum begitu ramai didatangi wisatawan. Jika dari Jakarta ada 2 alternatif menuju kesana. Pertama, melalui jalan darat via Bira dilanjutkan dengan menggunakan kapal ke Selayar dan Takabonerate dengan rute lengkap Jakarta – Makasar – Bira – Selayar – Takabonerate. Kedua, rute udara via Selayar dilanjutkan dengan menggunakan kapal ke Takabonerate dengan rute lengkap Jakarta – Makasar – Selayar – Takabonerate. Jika ingin lebih nyaman dan cepat bisa dipilih alternatif kedua, tetapi jika ingin lebih hemat dan memiliki waktu yang cukup panjang silakan pilih alternatif pertama. Jika menggunakan alternatif pertama, perjalanannya memang sedikit melelahkan tetapi jika waktu kita lebih banyak sebenarnya menjadi nilai tambah karena kita bisa mampir ke objek wisata lain salah satunya Tanjung Bira dan Apparalang.

Kami sendiri memilih rute kombinasi, pergi dengan alternatif pertama sedangkan pulangnya dengan alternatif kedua sehingga rute lengkapnya menjadi Jakarta – Makasar – Bira – Selayar – Takabonerate – Selayar – Makasar – Jakarta. Sekitar jam 10 malam kami pergi dari Makasar ke Bira menggunakan mobil omprengan yang ada di sekitar terminal dengan waktu tempuh sekitar 6 – 8 jam. Bisa juga menggunakan bus tetapi waktu tempuhnya lebih lama. Karena malam jadi selama perjalanan tidak banyak yang bisa dilihat. Kami sampai di pelabuhan Bira sekitar jam 8 pagi dan langsung membeli tiket kapal Pelni menuju ke Selayar. Perjalanan dari Bira ke Selayar ditempuh sekitar 2 – 3 jam tergantung kondisi laut. Kami sendiri sampai di Selayar sekitar jam 12. Dikarenakan kapal yang akan membawa kami dari Selayar menuju Takabonerate belum datang, kami terpaksa menunggu terlebih dahulu di salah satu Dive Center yang ada di Selayar. Yup, kami memang berencana untuk diving di beberapa dive site yang ada disana.

IMG_3251
Pemandangan di Pelabuhan Bira
IMG_3003
Kapal yang membawa kami ke Selayar

Menjelang magrib kapal yang akan membawa kami akhirnya datang juga. Kami benar-benar berangkat sekitar jam 7 malam dari dermaga kecil yang ada di Selayar. Kapal yang digunakan bukan speed boat melainkan kapal kayu, jadi selama perjalanan suaranya cukup bising oleh suara mesin. Karena tidak banyak yang bisa dilihat, perjalanannya cukup membosankan. Kami hanya bisa melihat bulan dan bintang – bintang yang ada di langit. Sebenarnya perjalanan malam hari lebih nyaman karena tidak tersengat panasnya sinar matahari apalagi waktu tempuhnya lebih dari 5 jam. Sepanjang perjalanan kami gunakan untuk istirahat sambil sesekali berbincang dengan awak kapal. Lewat tengah malam akhirnya kami sampai di pulau Rajuni, salah satu pulau yang berpenghuni, dan langsung dibawa ke salah satu rumah warga. Selama disana kami menginap di rumah warga karena belum ada penginapan. Sisa malam itu kami gunakan untuk istirahat karena besok paginya kami sudah memulai petualangan.

Saya tidak akan menceritakan secara detail perjalanan saya selama disana, pertama karena terlalu panjang dan kedua karena saya lupa detailnya. Haha. Selama beberapa hari disana kami hopping island ke beberapa pulau diantaranya Tinabo, Tarupa dan Latondu. Tak lupa kami juga singgah di salah satu gusung yang ada disana. Pada saat itu satu-satunya penginapan yang ada hanya di pulau Tinabo yang memang khusus untuk wisata. Wisatawan yang tidak menginap masih boleh berkunjung kesana. Daya tarik utama pulau ini adalah kita bisa bermain-main dengan baby shark di sekitar pantainya. Selain itu kita juga bisa menikmati sunset sambil canoeing.

Salah satu tujuan kami kesini adalah untuk menikmati alam bawah lautnya dengan menyelam di beberapa dive site. Karena keterbatasan waktu kami hanya menyelam di 3 titik penyelaman dan yang paling membuat kami kagum adalah pada saat melakukan wall diving atau menyelam di lereng atau ngarai laut. Ini adalah pengalaman pertama saya melakukan wall diving. Rasanya campur aduk antara takut karena yang terlihat dibawah kaki hanya kegelapan dan takjub melihat begitu indah hewan maupun tumbuhan yang ada disana. Selama penyelaman kami melakukan sesi foto (ala-ala Nadine & Marischka Prue. Hehe) pengibaran bendera merah putih. Saking asiknya tanpa sadar kami telah melewati batas kedalaman bagi penyelam pemula seperti kami, kami menyelam lebih dari 30 meter. Bagi yang tidak bisa menyelam tetap dapat menikmati keindahan bawah laut Takabonerate dengan snorkling.

DSCN0399
Foto diantara karang-karang cantik
DSCN0315
Selfie time
DSCN0268
Wefie time
DSCN0261
Berkibarlah benderaku

Salah satu aktivitas hopping island yang kami lakukan adalah mengunjungi salah satu gusung / pasir timbul yang ada disana. Gusung yang kami kunjungi tidak terlalu luas tetapi sangat instagramable, dengan hamparan pasir putih yang begitu halus dan degradasi warna laut dari hijau menjadi biru yang begitu indah. Gusung ini pun menjadi tempat persinggahan ratusan burung (entah apa namanya) selama mereka mencari makan.

IMG_3240
Kawanan burung di salah satu gusung

Kami sempat berkunjung ke salah satu pulau berpenghuni untuk solat Jumat. Setelah itu dilanjutkan dengan menikmati kelapa muda disalah satu sudut pulau yang dipenuhi oleh pohon kelapa.

IMG_3444
Panas-panas enaknya minum air kelapa muda
IMG_3180
Chilling time
DSCF2195
Salah satu spot foto yang kami jumpai

Selama beberapa hari disana, kami sempat berbincang dengan warga setempat dan kami sempat menyaksikan aktivitas warga menghantarkan calon jemaah haji. Seperti penduduk Indonesia pada umumnya, penduduk disini sangat ramah dan cukup terbuka terhadap wisatawan. Sebagai informasi bahwa disana listrik hanya ada pada malam hari jadi usahakan semua alat elektronik di-charge pada malam hari.

IMG_3255
Calon jemaah haji dihantarkan oleh warga

Butuh waktu lama untuk bisa mengunjungi seluruh pulau dan dive site yang ada. Karena keterbatasan waktu kami harus kembali ke rutinitas sehari-hari di Jakarta. Kami pulang dengan rute yang berbeda dari saat kami kesana. Agar tidak terlalu lelah kami memilih jalur udara dari Selayar menuju Makasar. Penerbangan Selayar – Makasar dan sebaliknya tidak setiap hari sehingga pastikan itinerary kalian sesuai dengan jadwal penerbangan jika ingin menggunakan pesawat.

Itu lah pengalaman saya selama mengunjungi Takabonerate. See you on the next trip

Bali, Never Ending Story

When you dream a beautiful place, make sure it’s Bali

-Someone’s quote-

Siapa yang tak kenal Bali? Pulau exotis yang pernah dinobatkan menjadi pulau terbaik di dunia ini masih menjadi magnet wisatawan, baik dalam maupun luar negeri. Sampai saat ini Bali masih merupakan tujuan terfavorit wisatawan di Indonesia. Meningkatnya aktivitas Gunung Agung sepertinya tidak terlalu berpengaruh terhadap kunjungan dan aktivitas wisatawan terutama wisatawan lokal.

Keindahan Bali tidak hanya sebatas pada pantainya saja tetapi banyak tempat dan atraksi menarik lainnya yang bisa dinikmati selama kita berada di Bali, mulai dari menikmati indahnya sunrise dari puncak gunung, berpetualang di hamparan hijau sawah, berendam air panas di pinggir danau sampai mengagumi keindahan tarian Bali yang mendunia. Aktivitas tersebut bisa menjadi pilihan jika kita mulai bosan dengan panasnya pantai. Kali ini saya akan sedikit menceritakan pengalaman saya beberapa tahun lalu menikmati indahnya alam Bali selain pantai dengan berkendara menggunakan mobil sewaan dan mengandalkan GPS.

Menikmati Udara Sejuk Ubud

Pilihan kedua saya jika ke Bali selain pantai adalah menikmati udara sejuk dan indahnya alam Ubud. Selain memiliki banyak pantai indah, Bali juga memiliki dataran tinggi yang tak kalah indah, salah satunya Ubud. Terletak sekitar 36 km dari bandara, Ubud termasuk dalam wilayah Kab Gianyar dan dapat diakses sekitar 2 jam perjalanan dengan menggunakan mobil. Jika ingin lebih nyaman dan santai, kita bisa menggunakan mobil atau motor sewaan. Tetapi jika ingin lebih hemat kita bisa menggunakan kendaraan umum.

Tidak seperti pantai Kuta atau Legian yang penuh dengan wisatawan baik muda maupun tua, selama saya di Ubud mayoritas pengunjungnya adalah turis mancanegara, itupun lebih banyak keluarga atau pasangan. Sepertinya Ubud menjadi pilihan bagi mereka yang ingin “mengasingkan diri” dari hiruk pikuk perkotaan.

Meskipun terkenal karena udara sejuknya, Ubud menawarkan banyak tempat dan atraksi menarik terutama yang terkait dengan seni dan budaya Bali. Ada beberapa galeri, museum atau tempat pertunjukan tari yang bisa dikunjungi salahsatunya museum Antonio Blanco. Disini kita bisa melihat karya-karya sang maestro lukis Indonesia yang jatuh cinta dengan keindahan alam dan budaya Bali. Ada puluhan atau mungkin ratusan karya sang pelukis berdarah Spanyol tersebut yang dipamerkan disana.

FullSizeRender
Let’s take a selfie
IMG_5422
Potret Sang Maestro

Selain museum kita juga bisa melihat pertunjukan tari yang biasanya digelar sore atau malam hari salah satunya di Puri Saren. Berbagai macam tarian khas Bali dibawakan oleh penari-penari yang lincah dan ayu diiringi musik gamelan Bali. Kursi-kursi penonton umumnya penuh oleh wisatawan mancanegara yang sangat terpukau dengan kerlingan mata dan lenggak lenggok sang penari. Setelah tarian selesai penonton bisa berfoto bersama dengan para penari.

Jika tidak terlalu tertarik dengan seni, kita bisa mengunjungi Monkey Forest. Sesuai namanya disini kita bisa melihat dan bercengkrama dengan ratusan monyet yang berkeliaran bebas. Tingkah laku monyet yang lucu dan menggemaskan pasti akan membuat penat kita hilang. Tetapi kita harus hati-hati karena terkadang mereka jahil dan suka mengambil barang-barang pengunjung terutama makanan, kacamata dan perhiasan. Monkey Forest bisa dinikmati sambil berjalan kaki pada jalur yang telah tersedia dan tertata cukup apik. Banyak spot-spot yang bisa dijadikan latar untuk selfie.

IMG_5405
Salah satu jembatan di Monkey Forest yang sering jadi objek foto
IMG_5396
Anak & Ibu
IMG_5389
Kalau berani bisa saja kita foto bersentuhan langsung dengan monyetnya, kebetulan saya tidak berani. Hehe

Selain tempat diatas, masih banyak tempat wisata lainnya yang bisa dikunjungi atau aktivitas yang bisa dilakukan seperti Goa Gajah, bukit Campuhan, rafting di sungai Ayung, mengikuti kursus memasak, bersepeda di persawahan, dll.

Untuk pilihan menginap menurut saya yang paling pas adalah menyewa villa terutama jika kita pergi besama teman atau keluarga. Jika ingin menginap di hotel berbintang, banyak sekali pilihan hotel berbintang 5 salah satunya Four Seasons Resort At Sayan yang merupakan tempat menginap Obama pada saat berlibur di Bali.

Tegalalang Rice Terrace

Masih di kawasan Ubud, objek wisata ini menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan tempat lain. Disini kita bisa melihat hamparan sawah yang berundak-undak dan merupakan salah satu contoh sistem irigasi tradisional khas Bali yang disebut Subak. Subak sendiri telah dinobatkan oleh UNESCO sebagai world heritage site.

Hal yang bisa kita lakukan disini, selain foto-foto tentunya, adalah berjalan kaki menyusuri pematang sawah yang berundak seperti tangga. Siapkan saja tenaga dan alas kaki yang nyaman, sebaiknya memakai sepatu olahraga atau sandal. Perjalanannya cukup melelahkan memang tapi sepadan dengan keindahan yang bisa kita nikmati dari puncak undakan sawah. Tempat ini bisa dikunjungi kapan saja tetapi menurut saya waktu terbaik adalah pada saat padi menguning karena akan lebih Instagramable.

Setelah lelah naik turun area pesawahan, kita bisa beristirahat di tempat makan yang berada disekitar Tegalalang sambil melihat keindahannya dari jauh.

DCIM100GOPROGOPR0618.
Me & my friend. Kesini enaknya ramean
IMG_5618
Usahakan bawa action camera kalau kesini

Desa Adat Panglipuran

Objek wisata yang berada di Kabupaten Bangli ini pernah dinobatkan sebagai desa terbaik di dunia. Desa ini terkenal karena masih memegang teguh budaya tradisional Bali dan sangat menjaga kebersihan lingkungannya. Siapapun yang berkunjung kesini pasti akan jatuh hati dengan keindahan, kebersihan dan keramahan warganya.

Rumah-rumah disini mempunyai pagar khas Bali, seperti pintu masuk pura. Disetiap halaman rumah tentu saja ada pohon kamboja yang merupakan tanaman khas masyarakat Bali. Areanya tidak terlalu luas memang tetapi cukup untuk membuat kita berdecak kagum.

IMG_5620
Selfie everywhere. Hehe

Pemandian Air Panas di Danau Batur

Semakin ke utara kita bisa menikmati dinginnya udara dan indahnya alam Kintamani yang berbukit-bukit. Sepanjang perjalanan dari Ubud ke Kintamani kita bisa melihat bentang alam yang begitu indah dan tidak ada salahnya berhenti sebentar untuk sekedar selfie. Perjalanan ke Kintamani seperti kita pergi ke Puncak atau Lembang, di kanan-kiri jalan terdapat barisan hutan pinus dan perkebunan warga yang ditanami sayuran maupun buah-buahan.

Sebelum menuju ke pemandian air panas, kita bisa mengunjungi beberapa pura yang ada di sekitar Kintamani salah satu Pura Ulun Danu Batur.  Meskipun hampir di setiap sudut kota ada pura tetapi menurut saya setiap pura mempunyai daya tarik tersendiri. Jika sedang beruntung kita bisa melihat prosesi sembahyang atau upacara adat lainnya. Untuk yang hobi fotografi, pura-pura di Bali merupakan objek foto yang tidak boleh dilewatkan.

IMG_5621
Salah satu objek foto yang ada di Pura Ulun Danu Batur
DCIM100GOPROGOPR0303.
Beruntung kalau di pura sedang ada upacara, suasananya jadi meriah seperti ini
Sesekali foto dengan angle yang tidak biasa

Setelah cukup berkeliling di Kintamani kita bisa mengunjungi pemandian air panas yang berada di pinggir danau Batur. Pemandian ini mempunyai sumber air panas alami yang kaya akan belerang. Sambil berendam kita bisa menikmati indahnya danau Batur yang merupakan danau alami yang berada di kaki Gunung Batur. Masih sekitar danau Batur, kita bisa berkunjung ke desa Trunyan. Salah satu ciri khas dari desa ini adalah proses pemakaman jenazah yang tidak dibakar (ngaben) atau dikubur tetapi dibiarkan membusuk di alam terbuka. Saya sendiri belum pernah kesana tetapi menurut informasi bahwa tidak ada bau busuk dari jenazah tersebut. Masyarakat percaya bahwa hal tersebut disebabkan adanya pohon besar yang ada ditempat pemakaman yang disebut Taru Menyan.

IMG_5619
Di salah satu sudut jalan menuju pemandian air panas
IMG_5623
Sesekali foto ala-la boleh lah ya…
DCIM100GOPROG0140353.
Kolam renangnya berada persis dipinggi danau

Pura Ulun Danu Bratan

Dijuluki pulau Dewata maka tak aneh jika kita menemukan begitu banyak pura di Bali. Salah satu pura yang bisa dikunjungi adalah Pura Ulun Danu Bratan. Letak pura ini persis berada di pinggir danau Bratan, Bedugul. Jika melihat pura ini pasti yang terlintas pertama kali adalah uang pecahan 50 ribu. Karena berada di dataran tinggi, udara di sekitar pura begitu sejuk. Di sekitar pura terdapat taman yang dipenuhi berbagai macam bunga yang tentu saja instagramable.

IMG_4886
Wefie time
Salah satu icon Bali

Tirta Empul

Tirta Empul merupakan pura dan tempat pemandian yang berada di daerah Tampak Siring, lokasinya sangat dekat dengan Istana Tampak Siring. Sebelum memasuki area ini, para pengunjung khususnya wisatawan diwajibkan memakai kain khas Bali yang telah disediakan pengelola. Selain tempat sembahyang, umat Hindu dan wisatawan biasa melakukan ritual penyucian diri dengan mandi di kolam yang berada di area pura. Tempat ini hampir tidak pernah sepi pengunjung, baik warga setempat maupun wisatawan.

IMG_5570
Salah satu umat Hindu yang membawa sesajan untuk sembahyang
Warga Hindu & wisatawan berbaur di Tirta Empul