Japan Trip (Part 1) : Menikmati (Awal) Musim Gugur di Aomori

Awal Oktober kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi Jepang selama sekitar 2 minggu. Disana saya mengunjungi beberapa kota yaitu Tokyo, Osaka, Kyoto dan Aomori. Salah satu tujuan trip kali ini adalah untuk menikmati keindahan musim gugur dan saya memilih Aomori untuk saya kunjungi. Kenapa Aomori? ada beberapa alasan kenapa saya memilih Aomori sebagai tujuan saya:

  1. Wilayah tersebut merupakan salah satu wilayah yang mengalami musim gugur lebih awal dibandingkan wilayah lain di Jepang karena pada umumnya puncak musim gugur di Jepang sekitar bulan November. Beberapa wilayah di Jepang, terutama bagian utara dan dataran tinggi, mengalami musim gugur lebih awal yaitu sekitar bulan Oktober. Aomori sendiri merupakan prefektur paling utara yang berada di pulau Honshu. 
  2. Saya ingin melihat keindahan musim gugur di Danau Towada dan Oirase Stream. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari japan-guide.com , Danau Towada dan Oirase Stream merupakan salah satu spot terbaik untuk menikmati keindahan musim gugur di Jepang.
  3. Saya ingin fokus menikmati keindahan alam dan menjauh dari hiruk pikuk kota besar seperti Tokyo atau Osaka. 

Perjalanan saya di Aomori sendiri tidak terlalu lama, hanya sekitar 3 hari. Selama disana saya menginap di apartemen salah satu mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S3 di Hirosaki University yang berada di kota Hirosaki (lumayan menghemat biaya akomodasi. hehe). Hirosaki sendiri merupakan salah satu kota di prefektur Aomori yang berjarak sekitar 40 km dari stasiun Shin-Aomori dan dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kereta dari stasiun Shin-Aomori.

Kebun Apel Hirosaki

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah kebun apel yang berada di kota Hirosaki. Hirosaki dan Aomori memang terkenal sebagai penghasil apel. Di kebun tersebut kita bisa menikmati keindahan hamparan pohon apel dan landscape Hirosaki dari ketinggian. Selain itu, kita bisa membeli apel yang kita petik langsung dari pohonnya. Apel yang kita petik akan ditimbang dan dihargai sekitar 300 – 500 yen per kilonya. Untuk mengujungi tempat ini kita bisa menggunakan taxi atau bus dari pusat kota Hirosaki dengan tarif sekitar 1000 yen sekali jalan.

Hirosaki Castle

Tempat kedua yang saya datangi adalah Hirosaki Castle yang berada di pusat kota Hirosaki. Tempat ini hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat saya menginap sehingga bisa diakses dengan berjalan kaki. Seperti castle di Jepang pada umumnya, castle ini pun dikelilingi oleh taman yang sangat luas dan rindang. Pohon-pohon besar berbagai jenis berderet sepanjang jalan menuju castle yang berada di tengah taman. Sebenarnya castle ini tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan Osaka Castle yang sangat megah. Karena saya datang sudah sore menjelang malam, suasana di sekitar castle lumayan sepi sehingga saya bisa leluasa untuk mengambil foto tanpa harus berebut dengan turis lain untuk mendapatkan posisi terbaik. Setiap tahun selalu diadakan festival musim gugur di Hirosaki Castle tetapi sayang saya kurang beruntung karena festival tersebut baru diadakan minggu berikutnya.

Oirase Stream

Sesuai rencana, keesokan harinya saya pergi ke Oirase Stream dan Danau Towada yang masih berada di prefektur Aomori. Untuk menuju kesana saya harus menggunakan kereta ke stasiun Shin-Aomori atau stasiun Aomori terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan bus. Perjalanan dari Shin-Aomori ke Oirase Stream sekitar 2,5 jam dengan beberapa kali pemberhentian. Pemberhentian tersebut umumnya merupakan onsen atau pemandian air panas khas Jepang. Selain dikenal akan buah apelnya, Aomori juga dikenal karena banyaknya onsen. Selama perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan pegunungan yang sangat menakjubkan. Karena pada saat itu belum memasuki puncak musim gugur maka sebagian besar pohon masih hijau tetapi sudah ada beberapa pepohonan yang mulai berubah warna menjadi kuning atau merah. Di setengah perjalanan, bus akan melewati daerah yang lebih tinggi dimana di tempat ini mayoritas dedauan sudah berubah menjadi kuning atau merah.

Setelah perjalanan sekitar 2.5 jam akhirnya saya sampai di Oirase Stream. Oirase Stream sendiri merupakan jalur hiking yang berada di pinggir aliran sungai yang airnya bersumber dari Danau Towada. Oirase Stream ini dimulai dari Nenokuchi (pinggir Danau Towada) sampai dengan Yakeyama dengan jarak sekitar 14 km. Waktu yang diperlukan untuk berjalan sepanjang jalur tersebut sekitar 5 jam. Tetapi jangan khawatir karena sepanjang jalur tersebut terdapat beberapa pemberhentian bus sehingga kita bisa turun ataupun naik pada spot yang kita inginkan saja tanpa harus berjalan sepanjang 14 km. Untuk jalurnya terserah kita, mau Nenokuchi – Yakeyama (dari atas ke bawah) atau Yakeyama – Nenokuchi (dari bawah ke atas). Saya sendiri memilih memulai dari bawah ke atas. Karena waktu yang terbatas, saya hanya berjalan di beberapa spot terbaik saja, sisanya saya kembali menggunakan bus menuju Danau Towada. Karena ini merupakan aliran sungai maka kita akan disuguhkan dengan keindahan sungai dengan airnya yang sangat jernih, pepohonan dengan daunnya yang mulai menguning serta jeram dan air terjun yang akan membuat kita berdecak kagum. 

Danau Towada

Tujuan terakhir saya adalah Danau Towada yang merupakan salah satu danau terbesar di Jepang. Sesampainya disana saya sedikit kecewa karena sebagian besar pohon masih berwarna hijau dan sepertinya puncak musim gugur disana baru akan terjadi sekitar akhir Oktober. Untuk menikmati keindahan danau sebenarnya kita bisa menaiki ferry, tetapi karena pada saat itu sudah sore dan gerimis saya hanya melihat keindahannya dari pinggir danau saja.

 Resume 

  1. Transportasi :
    • Stasiun Shin-Aomori – Stasiun Hirosaki : kereta Ou Line, sekitar 1 jam, 500 – 1600 yen (free jika menggunakan JR Pass)
    • Stasiun Shin-Aomori – Oirase Stream / Danau Towada : JR Bus, sekitar 2,5 – 3 jam, sekitar 3000 yen (free jika menggunakan JR Pass)
    • Stasiun Tokyo – stasiun Shin-Aomori : Shinkansen Tohoku (seluruh tempat duduk harus dipesan terlebih dahulu), sekitar 3 jam, sekitar 17.000 yen (free jika menggunakan JR Pass
  2. Akomodasi : tarif hotel bervariasi, rata-rata tarif hotel bintang 3 di Jepang diatas 1 – 1,5 juta per malam
  3. Waktu terbaik : akhir Oktober – awal November
  4. Suhu : umumnya belasan sampai dibawah 10 derajat
  5. Score : 4 dari 5 (4,5 pada puncak musim gugur)

Musim Semi di Benua Biru (Part 2)

Setelah pada Part 1 saya menceritakan pengalaman perjalanan saya di Amsterdam, Bruges dan Paris kali ini saya akan menceritakan pengalaman perjalanan di Swiss dan Italia.

Interlaken

Setelah Paris tujuan kami selanjutnya adalah Interlaken, Swiss. Dari Paris kami menggunakan bus malam yang sudah dibeli secara online via goeuro.com. Bus yang kami gunakan hanya sampai Bern, dari sana dilanjutkan menggunakan kereta ke Interlaken. Seperti yang sudah saya bayangkan sebelumnya, pemandangan sepanjang perjalanan membuat saya berdecak kagum. Hamparan padang rumput hijau dengan latar pegunungan Alpine yang masih diselimuti salju membuat saya enggan memejamkan mata meskipun sebenarnya saya lelah. Mendekati Interlaken pemandangan yang tadinya hijau perlahan berubah menjadi putih oleh salju. Ya, meskipun saat itu sudah memasuki musim semi tetapi disini sesekali masih turun salju.

img_0666

Interlaken sendiri merupakan kota kecil diantara danau Thun dan Brienz. Kedua danau tersebut dihubungkan oleh sungai Aare yang mengalir di tengah kota. Interlaken merupakan salah satu pintu masuk ke beberapa puncak pegunungan Alpine seperti Eiger, Monch dan Jungfrau. Tidak seperti kota-kota sebelumnya suasanya disini relatif sepi dan tidak terlalu banyak wisatawan. Meskipun kota kecil, transportasi disini sangat modern dan nyaman. Selain kereta, kita juga bisa menggunakan bus untuk berkeliling kota dengan gratis. Selama disana, ada satu hal yang menjadi perhatian saya yaitu penduduk lokal yang saya temui mayoritas orang tua, tidak terlalu banyak anak muda yang bisa dijumpai disana.

DSCF7413
Pusat kota dengan latar pegunungan yang masih diselimuti salju
DSCF7410
Banyak sekali pot bunga yang ditanami tulip
dscf7555-1
Suasana kota Interlaken

Tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan di Interlaken. Para wisatawan umumnya hanya singgah sebelum melanjutkan perjalanan mendaki ke puncak Alpine. Untuk menuju kesana kita bisa menggunakan kereta dari pusat kota. Selama disana kita akan melihat keindahan alam Swiss seperti yang ada di film-film. Hamparan hijau padang rumput, rumah-rumah penduduk khas Swiss dan gerombolan sapi menjadi tontonan utama selama perjalanan. Semakin keatas, pemandangan berubah menjadi putih karena  hampir seluruh wilayahnya ditutupi salju.

dscf7467-1
What a wonderful world
dscf7482-1
Wengen

img_0665

Florence & Pisa

Setelah Interlaken tujuan kami selanjutnya adalah Florence, Italia. Untuk menuju kesana kami menggunakan TRENITALIA yang kami pesan sebelumnya via goeuro. Karena tidak ada kereta yang langsung ke Florence, kami terpaksa harus ke Milan terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan menggunakan bus. Ada pengalaman tidak mengenakan yang saya alami sebelum menuju ke Italia. Pada saat akan berganti kereta di salah satu stasiun di Swiss, tas saya yang berisi kamera dan lensanya tertinggal di kereta yang kami naiki dari Interlaken. Singkat cerita karena saya tidak mungkin menyusul kereta itu akhirnya saya hanya melaporkan kejadian tersebut ke petugas yang ada di stasiun dengan harapan tas saya masih bisa ditemukan dan dikirim ke Indonesia. Alhamdulillah, sekitar 2 jam kemudian saya diinformasikan bahwa tas saya masih ada dan akan dikirim ke Indonesia. Setelah menunggu beberapa minggu akhirnya tas saya kembali meskipun saya harus membayar biaya pengiriman dan bea masuk dengan total hampir 3 juta. Hiks

Florence merupakan Ibu Kota Tuscan yang berada di Italia tengah dan merupakan kota kelahiran kebudayaan Renaisans. Tak ayal kota tersebut dipenuhi oleh bangunan-bangunan dengan gaya Renaisans. UNESCO menetapkan kota ini sebagai situs warisan dunia pada tahun 1982. Tak jauh beda dengan Bruges, daya tarik kota ini adalah bangunan-bangunan tua penuh sejarah dengan gaya arsitektur yang sangat Eropa sekali. Tak hanya sebagai pusat kebudayaan Renaisans, Florence juga merupakan kota kelahiran brand fashion ternama, Gucci. Beberapa tempat yang menjadi daya tarik kota ini adalah Piazza del Duomo, Pallazo Vecchio, Piazza Repubblica, Ponte Vecchio, Katedral Santa Maria del Fiore, Baptistery dan Piazzale Michelangelo. Bagi yang suka berbelanja disini banyak sekali butik-butik dari brand ternama seperti Gucci, Versace, Chanel atau Salvatore Ferragamo. Untuk menikmati tempat wisata tersebut kita cukup berjalan kaki karena letaknya yang berdekatan. Menjelang malam kita bisa bersantai di cafe yang banyak terdapat disana sambil menikmati secangkir cappucino dan tentu saja pizza khas Italia.

IMG_4298
Menikmati sunset dan kota Florence dari Piazzale Michelangelo

IMG_4323

Dari Florence kami sempat pergi ke Pisa dengan menggunakan kereta. Karena keterbatasan waktu kami hanya PP. Tujuan utama pergi kesana tentu saja untuk melihat Leaning Tower of Pisa alias menara miring Pisa.

IMG_4231

IMG_4191

IMG_4232

Roma

Kota terakhir yang kami kunjungi adalah Roma. Karena Roma merupakan kota tua sehingga mayoritas tempat wisata yang kami kunjungi merupakan bangunan atau situs bersejarah. Untuk lebih memudahkan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain kami memilih menggunakan bus hop on hop off. Beberapa tempat yang kami kunjungi adalah Colosseum, Roman Forum, Spanish Step, Trevi Fountain dan Pantheon. Bagi yang ingin berbelanja, banyak sekali butik-butik yang menjual produk fashion di dekat Spanish Step.

IMG_4352
Colesseum

Tak komplit rasanya ke Italia tanpa berkunjung ke Vatikan. Salah satu negara terkecil di dunia yang berada di tengah kota Roma ini memang selalu dipadati oleh pengunjung, baik pejiarah maupun wisatawan biasa seperti kami. Jika data pada hari akhir pekan siap-siap saja untuk antri panjang sebelum memasuki St Peter’s Basilica.

IMG_4426
St Peter’s Basilica
IMG_4485
Garda Swiss

Musim Semi di Benua Biru (Part 1)

Benua Biru atau Eropa merupakan salah satu destinasi incaran para traveler. Benua yang terdiri lebih dari 50 negara ini mungkin ada dalam wishlist hampir semua traveler terutama mereka yang berasal dari luar benua tersebut, termasuk saya. Keindahan alam, budaya, arsitektur, tata kota yang modern dan teratur merupakan salah satu daya tarik untuk mengunjungi benua ini. Menurut data PBB, secara geografis Eropa dibagi menjadi 4 wilayah yaitu Barat (Austria, Perancis, Jerman, Belanda, Swiss, dll), Timur (Polandia, Rumania, Ukraina, Rusia, dll), Utara (Inggris, Denmark, Islandia, Finlandia, dll) dan Selatan (Yunani, Italia, Portugal, Spanyol, dll). Negara-negara di Eropa Barat dan Utara sepertinya merupakan tujuan utama para traveler Indonesia, terutama bagi mereka yang baru pertama kali kesana. Hal ini mungkin terjadi karena di negara-negara tersebut terdapat icon-icon terkenal seperti menara Eiffel di Perancis, Colosseum dan menara Pisa di Italia atau Big Ben dan Buckingham Palace di Inggris.

Sebagian besar negara di Benua Eropa masuk kedalam wilayah subtropis sehingga mempunyai 4 musim, yaitu semi, panas, gugur dan dingin. Musim semi dimulai sekitar bulan Maret – Mei, musim panas sekitar Juni – Agustus, musim gugur sekitar September – November dan musim dingin sekitar Desember – Februari. Setiap musim menawarkan pengalaman yang berbeda bagi para traveler yang datang.

Kali ini saya akan sedikit bercerita dan berbagi pengalaman kunjungan saya ke beberapa negara Eropa pada tahun 2017. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya bahwa Eropa merupakan salah satu wishlist saya sejak lama. Singkat cerita setelah tabungan cukup akhirnya saya pergi ke beberapa negara Eropa pada bulan April 2017. Tujuan utama saya adalah untuk menikmati musim semi dan berkunjung ke beberapa icon terkenal di beberapa negara. Setelah diskusi yang cukup alot dengan partner traveling saya, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke 7 kota di 5 negara yaitu Amsterdam (Belanda), Bruges (Belgia), Paris (Perancis), Interlaken (Swiss), Florence dan Roma (Italia). Untuk perjalanan yang hanya 12 hari (termasuk PP dari/ke Jakarta) itinerary tersebut memang terlihat sangat ambisius, apalagi kami tidak menggunakan jasa biro perjalanan. Pada saat itu kami hanya berpikir belum tentu bisa kesana lagi jadi sekalian saja berkunjung ke banyak tempat. Hehe

Amsterdam

Tujuan pertama kami adalah Amsterdam, Belanda. Tujuan utamanya adalah city tour di Amsterdam dan berkunjung ke Keukenhof yang merupakan salah satu taman bunga terbesar di dunia. Awalnya kami ingin mengunjungi beberapa tempat di luar Amsterdam, seperti Volendam, Giethoorn, dan Kinderdijk, tetapi karena keterbatasan waktu akhirnya hanya Amsterdam dan Keukenhof yang bisa kami kunjungi.

IMG_3138

IMG_3133
Suasana sekitar apartemen tempat kami menginap

Belanda terkenal dengan keindahan kanalnya, sehingga hal wajib ketika berkunjung kesana adalah menyusuri kanal dengan perahu atau berjalan kaki. Di Amsterdam sendiri banyak sekali kanal yang bisa dikunjungi. Selain itu kita bisa berkunjung ke beberapa museum terkenal seperti Rijksmuseum, Van Gogh Museum dll, atau sekedar bersantai di taman Vondelpark. Amsterdam sendiri tidak begitu besar tetapi mempunyai sistem transportasi yang sangat bagus sehingga memudahkan para traveler untuk berkeliling kota. Pilihan transportasinya terdiri dari bus, trem, metro atau kereta. Sama seperti di negara maju lainnya, untuk menggunakan transportasi umum kita harus menggunakan smart card yang disebut OV Chipkaart.

IMG_3153

DSCF7180
Salah satu kanal yang bisa dijumpai di Amsterdam

DSCF7115

IMG_3195
Menikmati keindahan taman Vondelpark

IMG_3151

IMG_3206
Salah satu spot wajib untuk foto

Tempat kedua yang kami kujungi adalah Keukenhof yang terletak di kota Lisse. Dari Amsterdam kami menggunakan bus yang langsung mengantarkan para turis ke Keukenhof. Waktu terbaik untuk mengunjungi Keukenhof adalah pada musim semi sekitar bulan April sampai awal Mei karena pada saat tersebut seluruh bunga yang ada disana sedang mekar. Maka jangan heran jika tempat tersebut disesaki para turis dari berbagai negara. Selama disana kita bisa menikmati keindahan jutaan bunga yang ditata sangat apik dan dikelompokan berdasarkan jenis dan warna bunga. Bunga yang paling menarik tentu saja tulip yang menjadi ciri khas Belanda.

IMG_3258
Bunga tulip

Bruges

Kota kedua yang kami kunjungi adalah Bruges di Belgia. Kami menggunakan kereta Thalys dari Amsterdam ke Antwerpen kemudian dilanjutkan menggunakan Belgian Rail menuju ke Bruges. Hampir sama seperti Amsterdam, kota tua Bruges dikelilingi oleh kanal-kanal yang bisa dinikmati para turis menggunakan perahu. Karena terletak di bagian utara Eropa, terkadang Bruges dijuluki Venice of The North atau Venice dari Utara. Tujuan kami kesini adalah untuk menikmati keindahan kota tua Bruges yang dinobatkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Cara terbaik untuk menikmati keindahan kota ini adalah dengan bersepeda atau berjalan kaki. Karena ini merupakan kawasan kota tua maka tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang sehingga sangat nyaman untuk berjalan kaki atau bersepeda.

IMG_3311
Perjalanan meunju Bruges

Selama disana kami berkeliling kota dengan berjalan kaki menikmati keindahan bangunan-bangunan khas eropa yang meskipun sudah tua tapi masih terawat dan terlihat kokoh, berjalan dipinggir kanal, dan mengunjungi beberapa gereja salah satunya adalah The Church of Our Lady yang menyimpan salah satu karya Michelangelo, patung Madona and Child. Selain tempat-tempat tersebut, hal yang tidak boleh dilupakan selama berada di Bruges adalah menikmati coklat panas khas Belgia di cafe-cafe yang banyak terdapat disana. Selain itu kita bisa membeli oleh-oleh coklat khas Belgia dengan berbagai macam rasa dan bentuk dengan harga yang cukup murah di bandingkan kota lain di Eropa. Bagi para penggemar fotografi atau arsitektur, banyak sekali spot menarik yang bisa dijadikan objek foto.

IMG_3678
Salah satu tempat untuk bersantai sambil menikmati Bruges

Paris

Kota ke-3 yang kami kunjungi adalah Paris. Sama seperti sebelumnya, untuk menuju ke ibukota Perancis ini kami menggunakan kereta. Tujuan kami kesini tentu saja untuk melihat objek wisata yang menjadi icon kota Paris, seperti menara Eiffel, Arc de Triomphe, katedral Notre Dame dan museum Louvre. Untuk menikmati kota Paris dan objek wisata tersebut kami memilih menggunakan bus hop on hop off karena lebih praktis dan lebih murah dibandingkan menggunakan taxi. Selain tempat tersebut kami juga berkunjung ke Place de la Concorde, jembatan Pont des Arts atau jembatan gembok cinta dan sungai Seine. Bagi yang ingin belanja wajib berkunjung ke Champ Elysee atau Galeries Lafayette. Sedangkan jika ingin mencoba menjadi seorang Parisian, maka cara terbaik adalah dengan makan atau sekedar minum teh/kopi di cafe atau restauran yang banyak dijumpai di Paris.

IMG_3929
Paris Je T’aime
IMG_3825
Wonderful Indonesia

Dibalik keindahan kotanya ternyata Paris menyimpan cerita kelam. Tidak seperti Amsterdam atau Bruges yang serba teratur dan aman, transportasi umum disana tidak terlalu bagus (setidaknya itu yang kami rasakan) dan kriminalitasnya sangat tinggi. Di beberapa tempat banyak sekali dijumpai para imigran atau gelandangan dengan perangai yang mencurigakan. Jadi sebaiknya hindari berjalan di tempat sepi. Kami sendiri mengalami hal yang tidak mengenakan karena salah satu koper teman saya dicuri pada saat akan masuk ke stasiun metro. Selain itu saya sempat dipaksa memberikan “sumbangan” oleh beberapa perempuan di sekitar Arc de Triomphe.

Note : seluruh foto merupakan koleksi pribadi