Takabonerate, Mutiara dari Timur

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman perjalanan saya pada tahun 2016  saat mengunjungi salah satu kepulauan cantik di perairan Sulawesi Selatan, Kepulauan Takabonerate. Saya pergi dengan 6 orang teman pada bulan Agustus 2016. Kali ini kami ikut private trip yang kami arrange sendiri. So, langsung aja ya…

Takabonerate terletak di bagian utara laut Flores atau sebelah selatan Pulau Sulawesi, kalau di peta letaknya antara Sulawesi dan Flores / Nusa Tenggara. Pulau ini mempunyai atol terluas ke-3 di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa dan telah dinobatkan sebagai Taman Nasional. Secara administratif pulau ini termasuk kedalam wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Letaknya yang cukup jauh dan terpencil membuatnya belum begitu ramai didatangi wisatawan. Jika dari Jakarta ada 2 alternatif menuju kesana. Pertama, melalui jalan darat via Bira dilanjutkan dengan menggunakan kapal ke Selayar dan Takabonerate dengan rute lengkap Jakarta – Makasar – Bira – Selayar – Takabonerate. Kedua, rute udara via Selayar dilanjutkan dengan menggunakan kapal ke Takabonerate dengan rute lengkap Jakarta – Makasar – Selayar – Takabonerate. Jika ingin lebih nyaman dan cepat bisa dipilih alternatif kedua, tetapi jika ingin lebih hemat dan memiliki waktu yang cukup panjang silakan pilih alternatif pertama. Jika menggunakan alternatif pertama, perjalanannya memang sedikit melelahkan tetapi jika waktu kita lebih banyak sebenarnya menjadi nilai tambah karena kita bisa mampir ke objek wisata lain salah satunya Tanjung Bira dan Apparalang.

Kami sendiri memilih rute kombinasi, pergi dengan alternatif pertama sedangkan pulangnya dengan alternatif kedua sehingga rute lengkapnya menjadi Jakarta – Makasar – Bira – Selayar – Takabonerate – Selayar – Makasar – Jakarta. Sekitar jam 10 malam kami pergi dari Makasar ke Bira menggunakan mobil omprengan yang ada di sekitar terminal dengan waktu tempuh sekitar 6 – 8 jam. Bisa juga menggunakan bus tetapi waktu tempuhnya lebih lama. Karena malam jadi selama perjalanan tidak banyak yang bisa dilihat. Kami sampai di pelabuhan Bira sekitar jam 8 pagi dan langsung membeli tiket kapal Pelni menuju ke Selayar. Perjalanan dari Bira ke Selayar ditempuh sekitar 2 – 3 jam tergantung kondisi laut. Kami sendiri sampai di Selayar sekitar jam 12. Dikarenakan kapal yang akan membawa kami dari Selayar menuju Takabonerate belum datang, kami terpaksa menunggu terlebih dahulu di salah satu Dive Center yang ada di Selayar. Yup, kami memang berencana untuk diving di beberapa dive site yang ada disana.

IMG_3251
Pemandangan di Pelabuhan Bira
IMG_3003
Kapal yang membawa kami ke Selayar

Menjelang magrib kapal yang akan membawa kami akhirnya datang juga. Kami benar-benar berangkat sekitar jam 7 malam dari dermaga kecil yang ada di Selayar. Kapal yang digunakan bukan speed boat melainkan kapal kayu, jadi selama perjalanan suaranya cukup bising oleh suara mesin. Karena tidak banyak yang bisa dilihat, perjalanannya cukup membosankan. Kami hanya bisa melihat bulan dan bintang – bintang yang ada di langit. Sebenarnya perjalanan malam hari lebih nyaman karena tidak tersengat panasnya sinar matahari apalagi waktu tempuhnya lebih dari 5 jam. Sepanjang perjalanan kami gunakan untuk istirahat sambil sesekali berbincang dengan awak kapal. Lewat tengah malam akhirnya kami sampai di pulau Rajuni, salah satu pulau yang berpenghuni, dan langsung dibawa ke salah satu rumah warga. Selama disana kami menginap di rumah warga karena belum ada penginapan. Sisa malam itu kami gunakan untuk istirahat karena besok paginya kami sudah memulai petualangan.

Saya tidak akan menceritakan secara detail perjalanan saya selama disana, pertama karena terlalu panjang dan kedua karena saya lupa detailnya. Haha. Selama beberapa hari disana kami hopping island ke beberapa pulau diantaranya Tinabo, Tarupa dan Latondu. Tak lupa kami juga singgah di salah satu gusung yang ada disana. Pada saat itu satu-satunya penginapan yang ada hanya di pulau Tinabo yang memang khusus untuk wisata. Wisatawan yang tidak menginap masih boleh berkunjung kesana. Daya tarik utama pulau ini adalah kita bisa bermain-main dengan baby shark di sekitar pantainya. Selain itu kita juga bisa menikmati sunset sambil canoeing.

Salah satu tujuan kami kesini adalah untuk menikmati alam bawah lautnya dengan menyelam di beberapa dive site. Karena keterbatasan waktu kami hanya menyelam di 3 titik penyelaman dan yang paling membuat kami kagum adalah pada saat melakukan wall diving atau menyelam di lereng atau ngarai laut. Ini adalah pengalaman pertama saya melakukan wall diving. Rasanya campur aduk antara takut karena yang terlihat dibawah kaki hanya kegelapan dan takjub melihat begitu indah hewan maupun tumbuhan yang ada disana. Selama penyelaman kami melakukan sesi foto (ala-ala Nadine & Marischka Prue. Hehe) pengibaran bendera merah putih. Saking asiknya tanpa sadar kami telah melewati batas kedalaman bagi penyelam pemula seperti kami, kami menyelam lebih dari 30 meter. Bagi yang tidak bisa menyelam tetap dapat menikmati keindahan bawah laut Takabonerate dengan snorkling.

DSCN0399
Foto diantara karang-karang cantik
DSCN0315
Selfie time
DSCN0268
Wefie time
DSCN0261
Berkibarlah benderaku

Salah satu aktivitas hopping island yang kami lakukan adalah mengunjungi salah satu gusung / pasir timbul yang ada disana. Gusung yang kami kunjungi tidak terlalu luas tetapi sangat instagramable, dengan hamparan pasir putih yang begitu halus dan degradasi warna laut dari hijau menjadi biru yang begitu indah. Gusung ini pun menjadi tempat persinggahan ratusan burung (entah apa namanya) selama mereka mencari makan.

IMG_3240
Kawanan burung di salah satu gusung

Kami sempat berkunjung ke salah satu pulau berpenghuni untuk solat Jumat. Setelah itu dilanjutkan dengan menikmati kelapa muda disalah satu sudut pulau yang dipenuhi oleh pohon kelapa.

IMG_3444
Panas-panas enaknya minum air kelapa muda
IMG_3180
Chilling time
DSCF2195
Salah satu spot foto yang kami jumpai

Selama beberapa hari disana, kami sempat berbincang dengan warga setempat dan kami sempat menyaksikan aktivitas warga menghantarkan calon jemaah haji. Seperti penduduk Indonesia pada umumnya, penduduk disini sangat ramah dan cukup terbuka terhadap wisatawan. Sebagai informasi bahwa disana listrik hanya ada pada malam hari jadi usahakan semua alat elektronik di-charge pada malam hari.

IMG_3255
Calon jemaah haji dihantarkan oleh warga

Butuh waktu lama untuk bisa mengunjungi seluruh pulau dan dive site yang ada. Karena keterbatasan waktu kami harus kembali ke rutinitas sehari-hari di Jakarta. Kami pulang dengan rute yang berbeda dari saat kami kesana. Agar tidak terlalu lelah kami memilih jalur udara dari Selayar menuju Makasar. Penerbangan Selayar – Makasar dan sebaliknya tidak setiap hari sehingga pastikan itinerary kalian sesuai dengan jadwal penerbangan jika ingin menggunakan pesawat.

Itu lah pengalaman saya selama mengunjungi Takabonerate. See you on the next trip

Bali, Never Ending Story

When you dream a beautiful place, make sure it’s Bali

-Someone’s quote-

Siapa yang tak kenal Bali? Pulau exotis yang pernah dinobatkan menjadi pulau terbaik di dunia ini masih menjadi magnet wisatawan, baik dalam maupun luar negeri. Sampai saat ini Bali masih merupakan tujuan terfavorit wisatawan di Indonesia. Meningkatnya aktivitas Gunung Agung sepertinya tidak terlalu berpengaruh terhadap kunjungan dan aktivitas wisatawan terutama wisatawan lokal.

Keindahan Bali tidak hanya sebatas pada pantainya saja tetapi banyak tempat dan atraksi menarik lainnya yang bisa dinikmati selama kita berada di Bali, mulai dari menikmati indahnya sunrise dari puncak gunung, berpetualang di hamparan hijau sawah, berendam air panas di pinggir danau sampai mengagumi keindahan tarian Bali yang mendunia. Aktivitas tersebut bisa menjadi pilihan jika kita mulai bosan dengan panasnya pantai. Kali ini saya akan sedikit menceritakan pengalaman saya beberapa tahun lalu menikmati indahnya alam Bali selain pantai dengan berkendara menggunakan mobil sewaan dan mengandalkan GPS.

Menikmati Udara Sejuk Ubud

Pilihan kedua saya jika ke Bali selain pantai adalah menikmati udara sejuk dan indahnya alam Ubud. Selain memiliki banyak pantai indah, Bali juga memiliki dataran tinggi yang tak kalah indah, salah satunya Ubud. Terletak sekitar 36 km dari bandara, Ubud termasuk dalam wilayah Kab Gianyar dan dapat diakses sekitar 2 jam perjalanan dengan menggunakan mobil. Jika ingin lebih nyaman dan santai, kita bisa menggunakan mobil atau motor sewaan. Tetapi jika ingin lebih hemat kita bisa menggunakan kendaraan umum.

Tidak seperti pantai Kuta atau Legian yang penuh dengan wisatawan baik muda maupun tua, selama saya di Ubud mayoritas pengunjungnya adalah turis mancanegara, itupun lebih banyak keluarga atau pasangan. Sepertinya Ubud menjadi pilihan bagi mereka yang ingin “mengasingkan diri” dari hiruk pikuk perkotaan.

Meskipun terkenal karena udara sejuknya, Ubud menawarkan banyak tempat dan atraksi menarik terutama yang terkait dengan seni dan budaya Bali. Ada beberapa galeri, museum atau tempat pertunjukan tari yang bisa dikunjungi salahsatunya museum Antonio Blanco. Disini kita bisa melihat karya-karya sang maestro lukis Indonesia yang jatuh cinta dengan keindahan alam dan budaya Bali. Ada puluhan atau mungkin ratusan karya sang pelukis berdarah Spanyol tersebut yang dipamerkan disana.

FullSizeRender
Let’s take a selfie
IMG_5422
Potret Sang Maestro

Selain museum kita juga bisa melihat pertunjukan tari yang biasanya digelar sore atau malam hari salah satunya di Puri Saren. Berbagai macam tarian khas Bali dibawakan oleh penari-penari yang lincah dan ayu diiringi musik gamelan Bali. Kursi-kursi penonton umumnya penuh oleh wisatawan mancanegara yang sangat terpukau dengan kerlingan mata dan lenggak lenggok sang penari. Setelah tarian selesai penonton bisa berfoto bersama dengan para penari.

Jika tidak terlalu tertarik dengan seni, kita bisa mengunjungi Monkey Forest. Sesuai namanya disini kita bisa melihat dan bercengkrama dengan ratusan monyet yang berkeliaran bebas. Tingkah laku monyet yang lucu dan menggemaskan pasti akan membuat penat kita hilang. Tetapi kita harus hati-hati karena terkadang mereka jahil dan suka mengambil barang-barang pengunjung terutama makanan, kacamata dan perhiasan. Monkey Forest bisa dinikmati sambil berjalan kaki pada jalur yang telah tersedia dan tertata cukup apik. Banyak spot-spot yang bisa dijadikan latar untuk selfie.

IMG_5405
Salah satu jembatan di Monkey Forest yang sering jadi objek foto
IMG_5396
Anak & Ibu
IMG_5389
Kalau berani bisa saja kita foto bersentuhan langsung dengan monyetnya, kebetulan saya tidak berani. Hehe

Selain tempat diatas, masih banyak tempat wisata lainnya yang bisa dikunjungi atau aktivitas yang bisa dilakukan seperti Goa Gajah, bukit Campuhan, rafting di sungai Ayung, mengikuti kursus memasak, bersepeda di persawahan, dll.

Untuk pilihan menginap menurut saya yang paling pas adalah menyewa villa terutama jika kita pergi besama teman atau keluarga. Jika ingin menginap di hotel berbintang, banyak sekali pilihan hotel berbintang 5 salah satunya Four Seasons Resort At Sayan yang merupakan tempat menginap Obama pada saat berlibur di Bali.

Tegalalang Rice Terrace

Masih di kawasan Ubud, objek wisata ini menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan tempat lain. Disini kita bisa melihat hamparan sawah yang berundak-undak dan merupakan salah satu contoh sistem irigasi tradisional khas Bali yang disebut Subak. Subak sendiri telah dinobatkan oleh UNESCO sebagai world heritage site.

Hal yang bisa kita lakukan disini, selain foto-foto tentunya, adalah berjalan kaki menyusuri pematang sawah yang berundak seperti tangga. Siapkan saja tenaga dan alas kaki yang nyaman, sebaiknya memakai sepatu olahraga atau sandal. Perjalanannya cukup melelahkan memang tapi sepadan dengan keindahan yang bisa kita nikmati dari puncak undakan sawah. Tempat ini bisa dikunjungi kapan saja tetapi menurut saya waktu terbaik adalah pada saat padi menguning karena akan lebih Instagramable.

Setelah lelah naik turun area pesawahan, kita bisa beristirahat di tempat makan yang berada disekitar Tegalalang sambil melihat keindahannya dari jauh.

DCIM100GOPROGOPR0618.
Me & my friend. Kesini enaknya ramean
IMG_5618
Usahakan bawa action camera kalau kesini

Desa Adat Panglipuran

Objek wisata yang berada di Kabupaten Bangli ini pernah dinobatkan sebagai desa terbaik di dunia. Desa ini terkenal karena masih memegang teguh budaya tradisional Bali dan sangat menjaga kebersihan lingkungannya. Siapapun yang berkunjung kesini pasti akan jatuh hati dengan keindahan, kebersihan dan keramahan warganya.

Rumah-rumah disini mempunyai pagar khas Bali, seperti pintu masuk pura. Disetiap halaman rumah tentu saja ada pohon kamboja yang merupakan tanaman khas masyarakat Bali. Areanya tidak terlalu luas memang tetapi cukup untuk membuat kita berdecak kagum.

IMG_5620
Selfie everywhere. Hehe

Pemandian Air Panas di Danau Batur

Semakin ke utara kita bisa menikmati dinginnya udara dan indahnya alam Kintamani yang berbukit-bukit. Sepanjang perjalanan dari Ubud ke Kintamani kita bisa melihat bentang alam yang begitu indah dan tidak ada salahnya berhenti sebentar untuk sekedar selfie. Perjalanan ke Kintamani seperti kita pergi ke Puncak atau Lembang, di kanan-kiri jalan terdapat barisan hutan pinus dan perkebunan warga yang ditanami sayuran maupun buah-buahan.

Sebelum menuju ke pemandian air panas, kita bisa mengunjungi beberapa pura yang ada di sekitar Kintamani salah satu Pura Ulun Danu Batur.  Meskipun hampir di setiap sudut kota ada pura tetapi menurut saya setiap pura mempunyai daya tarik tersendiri. Jika sedang beruntung kita bisa melihat prosesi sembahyang atau upacara adat lainnya. Untuk yang hobi fotografi, pura-pura di Bali merupakan objek foto yang tidak boleh dilewatkan.

IMG_5621
Salah satu objek foto yang ada di Pura Ulun Danu Batur
DCIM100GOPROGOPR0303.
Beruntung kalau di pura sedang ada upacara, suasananya jadi meriah seperti ini
Sesekali foto dengan angle yang tidak biasa

Setelah cukup berkeliling di Kintamani kita bisa mengunjungi pemandian air panas yang berada di pinggir danau Batur. Pemandian ini mempunyai sumber air panas alami yang kaya akan belerang. Sambil berendam kita bisa menikmati indahnya danau Batur yang merupakan danau alami yang berada di kaki Gunung Batur. Masih sekitar danau Batur, kita bisa berkunjung ke desa Trunyan. Salah satu ciri khas dari desa ini adalah proses pemakaman jenazah yang tidak dibakar (ngaben) atau dikubur tetapi dibiarkan membusuk di alam terbuka. Saya sendiri belum pernah kesana tetapi menurut informasi bahwa tidak ada bau busuk dari jenazah tersebut. Masyarakat percaya bahwa hal tersebut disebabkan adanya pohon besar yang ada ditempat pemakaman yang disebut Taru Menyan.

IMG_5619
Di salah satu sudut jalan menuju pemandian air panas
IMG_5623
Sesekali foto ala-la boleh lah ya…
DCIM100GOPROG0140353.
Kolam renangnya berada persis dipinggi danau

Pura Ulun Danu Bratan

Dijuluki pulau Dewata maka tak aneh jika kita menemukan begitu banyak pura di Bali. Salah satu pura yang bisa dikunjungi adalah Pura Ulun Danu Bratan. Letak pura ini persis berada di pinggir danau Bratan, Bedugul. Jika melihat pura ini pasti yang terlintas pertama kali adalah uang pecahan 50 ribu. Karena berada di dataran tinggi, udara di sekitar pura begitu sejuk. Di sekitar pura terdapat taman yang dipenuhi berbagai macam bunga yang tentu saja instagramable.

IMG_4886
Wefie time
Salah satu icon Bali

Tirta Empul

Tirta Empul merupakan pura dan tempat pemandian yang berada di daerah Tampak Siring, lokasinya sangat dekat dengan Istana Tampak Siring. Sebelum memasuki area ini, para pengunjung khususnya wisatawan diwajibkan memakai kain khas Bali yang telah disediakan pengelola. Selain tempat sembahyang, umat Hindu dan wisatawan biasa melakukan ritual penyucian diri dengan mandi di kolam yang berada di area pura. Tempat ini hampir tidak pernah sepi pengunjung, baik warga setempat maupun wisatawan.

IMG_5570
Salah satu umat Hindu yang membawa sesajan untuk sembahyang
Warga Hindu & wisatawan berbaur di Tirta Empul