Melihat, Menikmati & Mengabadikan Keindahan Jepang Melalui Kamera

Siapa yang tak kenal Jepang, Negara yang terletak di Asia Timur ini merupakan salah satu tujuan favorit traveller dunia. Selain menawarkan keindahan alam, Jepang dikenal dengan kerahaman penduduk dan kulinernya yang selalu menggugah selera. Bagi pecinta fotografi, kota-kota di Jepang menawarkan berjuta-juta objek yang siap diabadikan kamera kesayangan, mulai dari hiruk pikuk manusia di Shibuya, keramaian di kedai-kedai makanan, sampai dengan keindahan aliran sungai di Aomori. Kali ini saya akan berbagi pengalaman perjalanan saya ke Jepang pada Oktober tahun lalu melalui foto yang saya ambil selama berada disana.

Kembali ke alam dengan menyusuri Oirase Stream

Ingin pengalaman yang sedikit berbeda selama di Jepang? cobalah berkunjung ke Aomori. Lumayan jauh memang dari Tokyo tapi keindahan alamnya dijamin bakal menyejukan mata dan pikiran. Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan disana antara lain : menyusuri dan menikmati keindahan serta sejuknya Oirase Stream, berkeliling dengan ferry di Danau Towada, melihat keindahan Hirosaki Castle dan wisata petik apel di Hirosaki. Siapkan saja stamina dan bekal yang cukup karena untuk menikmati keindahan Oirase Stream akan lebih mengasyikan dengan berjalan kaki. Cerita lengkap mengenai perjalanan saya di Aomori bisa dibaca disini.

IMG_6892
Oirase Stream, Aomori
IMG_6895
Danau Towada, Aomori
IMG_6896
Hirosaki Castle & perkebunan apel di Hirosaki, Aomori

Berburu di hutan beton

Jepang merupakan salah satu Negara dengan jumlah gedung pencakar langit terbesar di dunia. Di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka, deretan gedung pencakar langit siap memanjakan para pecinta fotografi khususnya pecinta landscape/cityscape photography. Salah satu tempat favorit pecinta fotografi, dan traveler tentunya, adalah Mori Tower yang berada di Roppongi. Di gedung ini terdapat observation deck yang selalu dipenuhi para turis yang ingin melihat keindahan Tokyo dari ketinggian.

IMG_6899
Melihat keindahan Tokyo dari Mori Tower
IMG_6901
Gedung pencakar langit menghiasi sudut-sudut kota Tokyo dan Osaka

 

Selain gedung-gedung pencakar langit, disana juga banyak gedung atau bangunan-bangunan iconic yang sayang untuk dilewatkan, seperti : Sensoji Temple, Azuma Bridge, Asahi Beer Hall, Rainbow Bridge dan Tokyo Skytree.

IMG_6902
Beberapa lokasi menarik untuk dikunjungi dan diabadikan

Melihat keseharian penduduk Jepang melalui street photography

Salahsatu daya tarik Jepang adalah keramahan dan kebiasaan warganya yang unik dan jarang ditemui di Indonesia. Selain itu, perpaduan budaya tradisional dan modern yang yang menjadi kesehariannya pun bisa menjadi daya tarik para turis. Pasar, pusat perbelanjaan, kereta api, stasiun, kuil atau kedai-kedai makanan merupakan tempat yang pas untuk melihat keseharian mereka.

IMG_6912
Tranportasi publik yang sangat modern dan bersih
IMG_6913
Deretan kios makanan di Tennoji, Osaka
IMG_6915
Masyarajat Jepang bangga dengan budaya tradisionalnya

Tempat wisata mainstream? Why not

Jika baru pertama kali ke Jepang rasanya tak lengkap jika tidak mengunjungi tempat-tempat mainstream seperti Nara Park, Shibuya crossing, Hitachi Seaside Park, Tokyu Plaza, Meiji Jingu Shrine, Arashiyama, Fushimi Inari Shrine atau Osaka Castle.

IMG_6893
Keindahan tanaman Kochia yang mulai memerah di Hitachi Seaside Park

 

IMG_6925
Pengunjung bisa bercengkrama dengan rusa yang ada di Nara Park

 

IMG_6926
Objek wisata mainstream di Osaka & Kyoto
IMG_6927
Osaka Castle
IMG_6928
Shibuya yang tak pernah sepi

 

IMG_6932
Meiji Jingu Shrine

Itulah hasil jalan-jalan saya ke Jepang, semoga bisa menginspirasi.

IMG_6929
Belum lengkap rasanya jalan-jalan tanpa selfie. Hehe

Salam,

 

Japan Trip (Part 1) : Menikmati (Awal) Musim Gugur di Aomori

Awal Oktober kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi Jepang selama sekitar 2 minggu. Disana saya mengunjungi beberapa kota yaitu Tokyo, Osaka, Kyoto dan Aomori. Salah satu tujuan trip kali ini adalah untuk menikmati keindahan musim gugur dan saya memilih Aomori untuk saya kunjungi. Kenapa Aomori? ada beberapa alasan kenapa saya memilih Aomori sebagai tujuan saya:

  1. Wilayah tersebut merupakan salah satu wilayah yang mengalami musim gugur lebih awal dibandingkan wilayah lain di Jepang karena pada umumnya puncak musim gugur di Jepang sekitar bulan November. Beberapa wilayah di Jepang, terutama bagian utara dan dataran tinggi, mengalami musim gugur lebih awal yaitu sekitar bulan Oktober. Aomori sendiri merupakan prefektur paling utara yang berada di pulau Honshu. 
  2. Saya ingin melihat keindahan musim gugur di Danau Towada dan Oirase Stream. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari japan-guide.com , Danau Towada dan Oirase Stream merupakan salah satu spot terbaik untuk menikmati keindahan musim gugur di Jepang.
  3. Saya ingin fokus menikmati keindahan alam dan menjauh dari hiruk pikuk kota besar seperti Tokyo atau Osaka. 

Perjalanan saya di Aomori sendiri tidak terlalu lama, hanya sekitar 3 hari. Selama disana saya menginap di apartemen salah satu mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S3 di Hirosaki University yang berada di kota Hirosaki (lumayan menghemat biaya akomodasi. hehe). Hirosaki sendiri merupakan salah satu kota di prefektur Aomori yang berjarak sekitar 40 km dari stasiun Shin-Aomori dan dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kereta dari stasiun Shin-Aomori.

Kebun Apel Hirosaki

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah kebun apel yang berada di kota Hirosaki. Hirosaki dan Aomori memang terkenal sebagai penghasil apel. Di kebun tersebut kita bisa menikmati keindahan hamparan pohon apel dan landscape Hirosaki dari ketinggian. Selain itu, kita bisa membeli apel yang kita petik langsung dari pohonnya. Apel yang kita petik akan ditimbang dan dihargai sekitar 300 – 500 yen per kilonya. Untuk mengujungi tempat ini kita bisa menggunakan taxi atau bus dari pusat kota Hirosaki dengan tarif sekitar 1000 yen sekali jalan.

Hirosaki Castle

Tempat kedua yang saya datangi adalah Hirosaki Castle yang berada di pusat kota Hirosaki. Tempat ini hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat saya menginap sehingga bisa diakses dengan berjalan kaki. Seperti castle di Jepang pada umumnya, castle ini pun dikelilingi oleh taman yang sangat luas dan rindang. Pohon-pohon besar berbagai jenis berderet sepanjang jalan menuju castle yang berada di tengah taman. Sebenarnya castle ini tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan Osaka Castle yang sangat megah. Karena saya datang sudah sore menjelang malam, suasana di sekitar castle lumayan sepi sehingga saya bisa leluasa untuk mengambil foto tanpa harus berebut dengan turis lain untuk mendapatkan posisi terbaik. Setiap tahun selalu diadakan festival musim gugur di Hirosaki Castle tetapi sayang saya kurang beruntung karena festival tersebut baru diadakan minggu berikutnya.

Oirase Stream

Sesuai rencana, keesokan harinya saya pergi ke Oirase Stream dan Danau Towada yang masih berada di prefektur Aomori. Untuk menuju kesana saya harus menggunakan kereta ke stasiun Shin-Aomori atau stasiun Aomori terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan bus. Perjalanan dari Shin-Aomori ke Oirase Stream sekitar 2,5 jam dengan beberapa kali pemberhentian. Pemberhentian tersebut umumnya merupakan onsen atau pemandian air panas khas Jepang. Selain dikenal akan buah apelnya, Aomori juga dikenal karena banyaknya onsen. Selama perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan pegunungan yang sangat menakjubkan. Karena pada saat itu belum memasuki puncak musim gugur maka sebagian besar pohon masih hijau tetapi sudah ada beberapa pepohonan yang mulai berubah warna menjadi kuning atau merah. Di setengah perjalanan, bus akan melewati daerah yang lebih tinggi dimana di tempat ini mayoritas dedauan sudah berubah menjadi kuning atau merah.

Setelah perjalanan sekitar 2.5 jam akhirnya saya sampai di Oirase Stream. Oirase Stream sendiri merupakan jalur hiking yang berada di pinggir aliran sungai yang airnya bersumber dari Danau Towada. Oirase Stream ini dimulai dari Nenokuchi (pinggir Danau Towada) sampai dengan Yakeyama dengan jarak sekitar 14 km. Waktu yang diperlukan untuk berjalan sepanjang jalur tersebut sekitar 5 jam. Tetapi jangan khawatir karena sepanjang jalur tersebut terdapat beberapa pemberhentian bus sehingga kita bisa turun ataupun naik pada spot yang kita inginkan saja tanpa harus berjalan sepanjang 14 km. Untuk jalurnya terserah kita, mau Nenokuchi – Yakeyama (dari atas ke bawah) atau Yakeyama – Nenokuchi (dari bawah ke atas). Saya sendiri memilih memulai dari bawah ke atas. Karena waktu yang terbatas, saya hanya berjalan di beberapa spot terbaik saja, sisanya saya kembali menggunakan bus menuju Danau Towada. Karena ini merupakan aliran sungai maka kita akan disuguhkan dengan keindahan sungai dengan airnya yang sangat jernih, pepohonan dengan daunnya yang mulai menguning serta jeram dan air terjun yang akan membuat kita berdecak kagum. 

Danau Towada

Tujuan terakhir saya adalah Danau Towada yang merupakan salah satu danau terbesar di Jepang. Sesampainya disana saya sedikit kecewa karena sebagian besar pohon masih berwarna hijau dan sepertinya puncak musim gugur disana baru akan terjadi sekitar akhir Oktober. Untuk menikmati keindahan danau sebenarnya kita bisa menaiki ferry, tetapi karena pada saat itu sudah sore dan gerimis saya hanya melihat keindahannya dari pinggir danau saja.

 Resume 

  1. Transportasi :
    • Stasiun Shin-Aomori – Stasiun Hirosaki : kereta Ou Line, sekitar 1 jam, 500 – 1600 yen (free jika menggunakan JR Pass)
    • Stasiun Shin-Aomori – Oirase Stream / Danau Towada : JR Bus, sekitar 2,5 – 3 jam, sekitar 3000 yen (free jika menggunakan JR Pass)
    • Stasiun Tokyo – stasiun Shin-Aomori : Shinkansen Tohoku (seluruh tempat duduk harus dipesan terlebih dahulu), sekitar 3 jam, sekitar 17.000 yen (free jika menggunakan JR Pass
  2. Akomodasi : tarif hotel bervariasi, rata-rata tarif hotel bintang 3 di Jepang diatas 1 – 1,5 juta per malam
  3. Waktu terbaik : akhir Oktober – awal November
  4. Suhu : umumnya belasan sampai dibawah 10 derajat
  5. Score : 4 dari 5 (4,5 pada puncak musim gugur)